Meruntuhkan Label : Tidak Cinta Diri
Bismillah
Dan saat itu, proses belajar saya baru sampai situ. Berlanjut lagi naik tingkat, saya belajar bahwa menyalahkan diri adalah salah satu bentuk dari kurangnya kecintaan terhadap diri saya sendiri. Iya, saya kadang merasa benci dengan diri saya. Apalagi terkait interaksi dengan orang lain. Saya benci ketika kurang tanggap membantu orang, saya benci diri saya yang kadang bercanda kelewatan hingga membuat suasana canggung, atau saya benci diri saya yang bersikap superior dihadapan orang lain.
Ah, saya terlalu sibuk baper dengan penilaian orang terhadap diri saya.
Maka kemudian label baru saya tempel ke diri saya. Kurang mencintai diri sendiri.
Label tersebut saya bawa kemana-mana. Mencari cara yang paling pas, mencari mereka yang paham bagaimana agar ini bisa berubah. Sampai kemudian saya mengenal EP dan berlanjut dengan TBS (insya Alloh kalo sempat diceritakan dilain postingan)
Di TBS, saya mengenal dan belajar tentang G.R.O.W.T.H sebuah metode yang digunakan untuk mencapai sebuah goal. Maka kemudian ketika praktek membuatnya, saya tetapkan goal saya, CUCI HATI CUCI OTAK 30 HARI, dalam usaha mengapresiasi diri (sebagai langkah awal mencintai diri).
Alhamdulillah, dengan ditemani kantuk, ditemani alarm HP maupun pengingat hidup aka Suami, 30 hari tersebut tercapai. Apa yang terjadi setelah 30 hari? Alhamdulillah masya Alloh. Saya jadi pribadi lebih positif, bahagia, rajin senyum (tentu dibantu up mood dengan 20 detik senyum tanpa alasan setiap paginya), bawaannya hepi selalu dan pastinya lebih menghargai hal-hal kecil dalam hidup saya dan ga terlalu banyak waktu ngurusin orang lain (kepo. wkwk)
Tapi saya belum puas?
ini kenapa? koq aku belum cinta diriku secara penuh?
kadang masih yah terpekur menyalahkan diri.
salahnya dimana?
alhamdulillahnya lagi, TBS bikin saya ga lama-lama terpekur. OK lah, terpekur boleh, tapi kemudian berdiri dan cari cara.
baru ngeh, kalo ternyata Mencintai Diri itu tidak dapat saya raih, karena saya sendiri belum mendetailkan seperti apa sebenarnya yang dimaksud dengan mencintai diri.
haha. Saya gamang saat menanyakan pada diri,
mencintai diri memangnya seperti apa, tik?
Ketemu? GA!
wkwk.
Saya malah bingung sendiri mendefinisikan Cinta Diri.
ya sudahlah, coba di meta model aja dech.
saya ajak duduk diri saya yang ada dalam bayangan saya.
memangnya kamu ga cinta dirimu?
tau dari mana?
emang cinta itu gimana hayo?
trus kalo ga cinta tu piye maksudnya?
kamu menyakiti diri sendiri? mukul-mukulin diri?
Trus pas kamu terpuruk, menyalahkan diri, trus kamu njuk tetep makan tho? tetep mandi? tetep ngurus diri? itu bukannya malah karena sayang?
eh trus ngiyain sendiri. Lha iya ya. Kalo aku ga cinta diriku, njuk ngapain repot-repot cari tau tentang self healing, self improvement? Kalo aku ga cinta diriku, mana mungkin aku setengah mati ingin keluar dari kondisi terpuruk ini? rela ikutan EP dulu padahal kala itu g ngerasa butuh, demi bisa ikutan TBS (karena TBS khusus untuk alumni EP). njuk jauh-jauh, mahal-mahal ke Surabaya, nginep dihotel bintang 5, buat ikutan TBS? (karena buat kami, TBS + operasionalnya itu mahal. hihi)
Eh iya, jadi pengakuan, dulu tuh niatnya ke bu Okina itu ikutan TBSnya. trus baru tau kalo mau TBS kudu jadi alumni EP (Enlightening Parenting) yang kala itu saya pikir sebenarnya ga saya butuhkan karena merasa ga pnya masalah dengan parenting. Makanya, kalo yang sekelas sama saya di EP pasti ngeh waktu perkenalan saya bilang
'Saya datang kesini, bukan karena anak saya bermasalah, suami saya bermasalah. Saya kesini, karena saya tau saya yang bermasalah, dan ga mau bikin anak dan suami saya susah' kemudian mewek. wkwkwk.
Yah jadi begitulah. Hasil nanya-nanya diri, dan kemudian masya Alloh dibukakan dan dimudahkan oleh Alloh memahami banyak sekali kebersyukuran yang harusnya saya lakukan dan sebagai tanda saya mencintai diri saya, seketika itu juga, label saya runtuh tuh tuh tuh tak bersisa.
Dipenghujung penguatan diri, saya menanyakan dan menceritakan proses saya ke Cikgu Okina. Proses saya dengan goal 30 hari cuci hati cuci otak yang kemudian malah itu bukan yg saya cari, tapi dibukakan sama Alloh kalo saya mencintai diri saya, walo ga secara langsung lewat cuci hati cuci otak. Dan jawaban cikgu sungguh menenangkan hati.
Alloh ingin, diri saya yang lebih bersih hati dan otaknya, untuk kemudian menggenapi proses mencintai diri. Allohuakbar Alloh Maha Besar.
Semua proses ini, tidak lepas dari dukungan besar pasangan dan anak yang sungguh sangat saya syukuri mereka sebagai hadiah terbaik yang Alloh berikan untuk saya. Kesabaran, keikhlasan, kerelaan anak-anak membiarkan saya pergi ke luar kota, berkali-kali berhari-hari untuk belajar menjadi baik. Keluasan jiwa suami yang merelakan banyak biaya, banyak waktu cuti (karena harus menemani saya ke luar kota atau mengurus anak-anak seorang diri saat saya belajar), keikhlasan mendengarkan celoteh curhatan saya yang tidak jarang kelewatan panjang dan melelahkan untuk didengar, dan segala pijatan, pelukan, senyuman, dan ah..keseluruhan dirinya, yang memudahkan proses perjalanan panjang ini.
Dan hadiah terbaik darinya ialah ketika sesesuami minta ikutan kelas EP dan kelak berlanjut ke TBS untuk semakin mengharmonikan perjalanan kami menggenapi misi yang Alloh beri. Jazakallohukhoiron katsiron pak bro abang ganteng Ginanjar Puji Rahayu. kekeke. I love you full..karena Alloh.
Semoga tulisan ini akan selalu jadi pengingat proses saya. ketika terjatuh, namun siap bangun kembali. Belajar dan beproses itu sepanjang masa, hingga Alloh ambil jiwa ini lepas dari Raga. Dan inilah salah satu ikhtiar kita memenuhi tugas sebagai manusia bermanfaat. Mulai dari diri sendiri, semoga manfaatnya bisa tersebar lebih luas. Bismillah.
Postingan ini dibuat sebagai bentuk apresiasi proses diri yang masih akan terus berlanjut
Sudah sejak lama saya ngeh kalo masalah saya itu di manajemen diri. Terkait emosi, pola pikir, dan bagaimana saya memandang diri.
Saya dulu punya kecenderungan menyalahkan diri atas segala hal yang tidak sesuai dengan yang seharusnya. Misalkan ketika ada sesuatu hal buruk yang terjadi, saya akan banyak tenggelam pada proses perenungan yang akhirnya menyalahkan diri.
Ya Alloh salah saya apa? apa yang perlu saya perbaiki? dan masih banyak pertanyaan lain
Lho itu kan bagus? iya bagus. Salahnya saya adalah terlalu tenggelam pada proses ini. Tenggelam pada rasa sedih, alih-alih berdiri dan belajar dari kesalahan tersebut. Jadi lah sibuk utek-utek di menyalahkan diri aja, bukan kemudian memperbaiki atau menganggap bahwa itu proses Alloh mendidik saya.
Dan saat itu, proses belajar saya baru sampai situ. Berlanjut lagi naik tingkat, saya belajar bahwa menyalahkan diri adalah salah satu bentuk dari kurangnya kecintaan terhadap diri saya sendiri. Iya, saya kadang merasa benci dengan diri saya. Apalagi terkait interaksi dengan orang lain. Saya benci ketika kurang tanggap membantu orang, saya benci diri saya yang kadang bercanda kelewatan hingga membuat suasana canggung, atau saya benci diri saya yang bersikap superior dihadapan orang lain.
Ah, saya terlalu sibuk baper dengan penilaian orang terhadap diri saya.
Maka kemudian label baru saya tempel ke diri saya. Kurang mencintai diri sendiri.
Label tersebut saya bawa kemana-mana. Mencari cara yang paling pas, mencari mereka yang paham bagaimana agar ini bisa berubah. Sampai kemudian saya mengenal EP dan berlanjut dengan TBS (insya Alloh kalo sempat diceritakan dilain postingan)
Di TBS, saya mengenal dan belajar tentang G.R.O.W.T.H sebuah metode yang digunakan untuk mencapai sebuah goal. Maka kemudian ketika praktek membuatnya, saya tetapkan goal saya, CUCI HATI CUCI OTAK 30 HARI, dalam usaha mengapresiasi diri (sebagai langkah awal mencintai diri).
Alhamdulillah, dengan ditemani kantuk, ditemani alarm HP maupun pengingat hidup aka Suami, 30 hari tersebut tercapai. Apa yang terjadi setelah 30 hari? Alhamdulillah masya Alloh. Saya jadi pribadi lebih positif, bahagia, rajin senyum (tentu dibantu up mood dengan 20 detik senyum tanpa alasan setiap paginya), bawaannya hepi selalu dan pastinya lebih menghargai hal-hal kecil dalam hidup saya dan ga terlalu banyak waktu ngurusin orang lain (kepo. wkwk)
Tapi saya belum puas?
ini kenapa? koq aku belum cinta diriku secara penuh?
kadang masih yah terpekur menyalahkan diri.
salahnya dimana?
alhamdulillahnya lagi, TBS bikin saya ga lama-lama terpekur. OK lah, terpekur boleh, tapi kemudian berdiri dan cari cara.
baru ngeh, kalo ternyata Mencintai Diri itu tidak dapat saya raih, karena saya sendiri belum mendetailkan seperti apa sebenarnya yang dimaksud dengan mencintai diri.
haha. Saya gamang saat menanyakan pada diri,
mencintai diri memangnya seperti apa, tik?
Ketemu? GA!
wkwk.
Saya malah bingung sendiri mendefinisikan Cinta Diri.
ya sudahlah, coba di meta model aja dech.
saya ajak duduk diri saya yang ada dalam bayangan saya.
memangnya kamu ga cinta dirimu?
tau dari mana?
emang cinta itu gimana hayo?
trus kalo ga cinta tu piye maksudnya?
kamu menyakiti diri sendiri? mukul-mukulin diri?
Trus pas kamu terpuruk, menyalahkan diri, trus kamu njuk tetep makan tho? tetep mandi? tetep ngurus diri? itu bukannya malah karena sayang?
eh trus ngiyain sendiri. Lha iya ya. Kalo aku ga cinta diriku, njuk ngapain repot-repot cari tau tentang self healing, self improvement? Kalo aku ga cinta diriku, mana mungkin aku setengah mati ingin keluar dari kondisi terpuruk ini? rela ikutan EP dulu padahal kala itu g ngerasa butuh, demi bisa ikutan TBS (karena TBS khusus untuk alumni EP). njuk jauh-jauh, mahal-mahal ke Surabaya, nginep dihotel bintang 5, buat ikutan TBS? (karena buat kami, TBS + operasionalnya itu mahal. hihi)
Eh iya, jadi pengakuan, dulu tuh niatnya ke bu Okina itu ikutan TBSnya. trus baru tau kalo mau TBS kudu jadi alumni EP (Enlightening Parenting) yang kala itu saya pikir sebenarnya ga saya butuhkan karena merasa ga pnya masalah dengan parenting. Makanya, kalo yang sekelas sama saya di EP pasti ngeh waktu perkenalan saya bilang
'Saya datang kesini, bukan karena anak saya bermasalah, suami saya bermasalah. Saya kesini, karena saya tau saya yang bermasalah, dan ga mau bikin anak dan suami saya susah' kemudian mewek. wkwkwk.
Yah jadi begitulah. Hasil nanya-nanya diri, dan kemudian masya Alloh dibukakan dan dimudahkan oleh Alloh memahami banyak sekali kebersyukuran yang harusnya saya lakukan dan sebagai tanda saya mencintai diri saya, seketika itu juga, label saya runtuh tuh tuh tuh tak bersisa.
Dipenghujung penguatan diri, saya menanyakan dan menceritakan proses saya ke Cikgu Okina. Proses saya dengan goal 30 hari cuci hati cuci otak yang kemudian malah itu bukan yg saya cari, tapi dibukakan sama Alloh kalo saya mencintai diri saya, walo ga secara langsung lewat cuci hati cuci otak. Dan jawaban cikgu sungguh menenangkan hati.
Speechless. Ya Alloh, diajak jalan-jalan dulu rupanya saya. Kemana-mana, kenal dengan banyak orang, belajar dari mereka. Kemudian melewati proses cuci hati cuci otak. baru kemudian Alloh membuka tabir yang selama ini menutupi kenyataan bahwa Saya Mencintai Diri Saya.Udah benerr sekali itu. Mungkin krn udah lebih santai jd lebih mudah juga memetamodeli diri sendiri. Jd goal kemarin jg bermanfaat plus dikuatkan metamodel ❤
Alloh ingin, diri saya yang lebih bersih hati dan otaknya, untuk kemudian menggenapi proses mencintai diri. Allohuakbar Alloh Maha Besar.
Semua proses ini, tidak lepas dari dukungan besar pasangan dan anak yang sungguh sangat saya syukuri mereka sebagai hadiah terbaik yang Alloh berikan untuk saya. Kesabaran, keikhlasan, kerelaan anak-anak membiarkan saya pergi ke luar kota, berkali-kali berhari-hari untuk belajar menjadi baik. Keluasan jiwa suami yang merelakan banyak biaya, banyak waktu cuti (karena harus menemani saya ke luar kota atau mengurus anak-anak seorang diri saat saya belajar), keikhlasan mendengarkan celoteh curhatan saya yang tidak jarang kelewatan panjang dan melelahkan untuk didengar, dan segala pijatan, pelukan, senyuman, dan ah..keseluruhan dirinya, yang memudahkan proses perjalanan panjang ini.
Dan hadiah terbaik darinya ialah ketika sesesuami minta ikutan kelas EP dan kelak berlanjut ke TBS untuk semakin mengharmonikan perjalanan kami menggenapi misi yang Alloh beri. Jazakallohukhoiron katsiron pak bro abang ganteng Ginanjar Puji Rahayu. kekeke. I love you full..karena Alloh.
Semoga tulisan ini akan selalu jadi pengingat proses saya. ketika terjatuh, namun siap bangun kembali. Belajar dan beproses itu sepanjang masa, hingga Alloh ambil jiwa ini lepas dari Raga. Dan inilah salah satu ikhtiar kita memenuhi tugas sebagai manusia bermanfaat. Mulai dari diri sendiri, semoga manfaatnya bisa tersebar lebih luas. Bismillah.
Komentar