Postingan

Menampilkan postingan dengan label curhat

Meruntuhkan Label : Tidak Cinta Diri

Bismillah  Postingan ini dibuat sebagai bentuk apresiasi proses diri yang masih akan terus berlanjut Sudah sejak lama saya ngeh kalo masalah saya itu di manajemen diri. Terkait emosi, pola pikir, dan bagaimana saya memandang diri. Saya dulu punya kecenderungan menyalahkan diri atas segala hal yang tidak sesuai dengan yang seharusnya. Misalkan ketika ada sesuatu hal buruk yang terjadi, saya akan banyak tenggelam pada proses perenungan yang akhirnya menyalahkan diri. Ya Alloh salah saya apa? apa yang perlu saya perbaiki? dan masih banyak pertanyaan lain L ho itu kan bagus? iya bagus. Salahnya saya adalah terlalu tenggelam pada proses ini. Tenggelam pada rasa sedih, alih-alih berdiri dan belajar dari kesalahan tersebut. Jadi lah sibuk utek-utek di menyalahkan diri aja, bukan kemudian memperbaiki atau menganggap bahwa itu proses Alloh mendidik saya. Dan saat itu, proses belajar saya baru sampai situ. Berlanjut lagi naik tingkat, saya belajar bahwa menyalahkan diri adalah...

sok sibuk!

IMS IIP Rangkul Cirebon Komunitas Bestari HS anak-anak trus kemarin nowel suami, 'bro, koq aku pengen kuliah lagi, mau jadi guru BP' walo dijawab suami 'OK' kemudian ngeh SOK SIBUK BENER, BU.. WAKTUNYA ADA???? T_____T one by one tik!! Tapi kalo jadwalnya bareng gimana?? #eh

Hukum Kekekalan Ikhtiar Anak

Tadi pagi, tak seperti biasanya, Qeela mendadak kekeuh minta dibelikan cimin, sebuah jajanan sekolahan yang mangkal didepan SD dekat rumah. Apalagi kondisinya belum mandi apalagi sarapan. Kali ini, saya menolak. Sudah 2 hari berturut-turut ia jajan makanan ber MSG. Jadi saya minta kali ini tidak.  Ia kemudian menangis. Mulai melakukan sesuatu yang disebut Abah Ihsan 'Ikhtiar Anak'. Dari mulai menangis diam-diam sesenggukan, sampai akhirnya berlari ke kamar dan mulai memunculkan suara tangis yang mendayu-dayu. Saya berusaha santai. Tidak terbawa suasana. Sebelum ia berlari ke kamar, saya sudah mencoba mengajak bicara dengan baik. Tanpa terbawa emosi, saya ajak ia berpikir. Apa konsekuensi yang bisa ia dapatkan bila memaksa mengkonsumsi jajanan full MSG berturut-turut selama 3 hari. Bukan, saya bukan mamak-mamak yang melarang anaknya mengkonsumsi MSG, tapi bukan pula mamak yang membebaskan apapun yang dikonsumsi anak. Saya jelaskan pula bahwa kekhawatiran akan sakit peru...

Kita dan parenting

Bismillah Bercerita lagi ya, masih seputar hasil belajar di PSPA wiken kemarin. Disiplin. Hal ini masih menjadi topik hangat diantara saya dan suami. Kami ingin, kegiatan dirumah bisa lebih tertata. Kami pun sebagai orangtua tidak perlu berulang kali mengingatkan.  Sebelumnya, ketika memulai program 1821 di rumah, saya dan suami mengalami sedikit miskomunikasi diantara kami. Akibatnya terjadi kebingungan pada anak-anak. Itulah kemudian kami sepakat membicarakan berdua dulu perihal aturan dirumah sebelum akhirnya meminta pendapat anak-anak. Jadi istilah godog proposal dulu sebelum diacc mereka. Sampai siang ini, saya dan suami kembali membahas perihal S.O.P yang akan dijalankan dirumah. Kali ini membahas batasan serta kebebasan yang bisa didapat anak-anak. Sudah 3 bulan selepas saya mengikuti PSPA, sehingga banyak sekali yang sudah agak terlupa. Alhamdulillah suami dengan setia mengingatkan, membahas ulang, dan menentukan semua bersama. Alhamdulillah sebagai seorang imam, itu...

Kesepakatan diawal

Pernah ga sih, kita berulang-ulang mengingatkan anak-anak ketika melakukan sesuatu? kadang lelah memberitahu ditambah mood ibu yang kadang naik turun, tanpa sadar niat mengingatkan itu malah beralih menjadi marah-marah? Saya pernah. Sering malah :( Sebalnya itu pada diri sendiri, tau teori,  tapi koq ya tetap saja kegoda untuk ngomel-ngomel. Abisan gimana ya, anak-anak rasanya tidak terlalu memperhatikan apa yang saya maksudkan. Akhirnya saya merasa harus berulang-ulang mengingatkan. Nah, ternyata, kemarin ketika mengikuti kelas kurikulum, saya belajar untuk praktek langsung membuat kesepakatan dengan anak. Ini enak banget deh, meringankan tugas mulut untuk bolak-balik mengingatkan. Dipikir-pikir sekarang, ini juga salah satu pendukung utama terbangunnya komunikasi produktif. Stock sabar berlimpah, Misuh-misuh berkurang, komunikasi produktif aman :D Seperti sore ini, ketika anak-anak bermain diluar rumah. Bila sebelumnya saya harus bolak balik memanggil mereka untuk...

kegagalan pertama

Memasuki hari ke 6 dari tantangan 10 hari kelas Bunda Sayang IIP. Namanya proses, perjalanan tidak akan selalu menyenangkan, pasti ada kalanya kita menemui kesulitan. Begitu juga dengan proses membentuk komunikasi Produktif dengan anggota keluarga. Saat yang saya khawatirkan pun datang juga :( Dari kemarin saya sudah sounding anak-anak bahwa kami akan berangkat pagi-pagi dari rumah menuju Cirebon hari ini karena ada kumpul Komunitas Bestari. Acara sebenarnya baru akan mulai jam 10.00 WIB, namun karena mempertimbangkan kondisi yang mudah lelah sayapun memutuskan menumpang bis sekolah jam setengah 7. Yah, harapan ternyata tak sesuai kenyataan. Pagi ini anak-anak bangun kesiangan, saya pun harus lari-larian menyiapkan kebutuhan dan mempersiapkan mereka. Alhamdulillah masih dibantu suami, namun qodarulloh, kami ketinggalan bis :(( Mungkin inilah yang menjadi awal ketidaknyamanan mood saya hari ini. Saya yang sudah kadung berjanji bertemu dengan teman-teman, akhirnya dengan terpaksa ha...

Memulai tanpa ekspektasi

Memasuki hari ke 4 membangun komunikasi produktif diantara kami..alhamdulillah.. Mau sedikit cerita ah, saya ini orangnya gampang-gampang susah. Terkadang agak sulit menerima ketika dikritik orang terdekat. Entah kenapa ego saya lah yang selalu maju duluan. Eh bukan entah kenapa dink, dasar saya yang belum kelar memanage diri :p Nah, seringkali masalah inilah yang menjadi titik awal mula permasalahan antara saya dan suami. Saya yang terkadang punya salah (namanya juga manusia, sist :D ), saat dikritik suami malah tidak terima. Biasanya akan terjadi proses 'ngeyel' dari saya. Suami yang pada dasarnya tidak menyukai konflik akhirnya memilih untuk diam saja. Mengalah.  Belakangan, saya sadar saya yang salah. Bila begini terus, lantas kapan saya melakukan perbaikan diri. Kalo begini terus, sama saja saya 'memutilasi' peranan suami sebagai imam yang seharusnya mendidik saya. Akhirnya mulailah saya kembali utarakan maksud saya. Saya mohon ridhonya untuk mulai k...

Bahasa Cinta

Kemarin siang, saya membaca sebuah tulisan Ust. Harry Santosa di group HEbAT JABAR yang saya dan suami ikuti. Biasanya, Ust. Harry membahas mengenai tahapan perkembangan anak menyesuaikan pada fitrahnya. Namun kali ini agak berbeda. Visi Misi Pernikahan dan Keluarga. Saya sebenarnya tidak terlalu kaget karena sempat dibahas sedikit oleh mba Artri yang saya temui minggu lalu. Ust. Harry membahas bagaimana perlunya setiap keluarga memiliki visi misi yang jelas atas tujuan dari keluarga ini. Sebagai patokan ketika keputusan baik itu diambil oleh individu didalam keluarga atau sebagai satu kesatuan keluarga Patokan itulah yang akan menjadi penguat dan perekat setiap anggota keluarga. Trus saya bakal bahas visi misi keluarga? Sayangnya bukan, ilmunya masih belum sekuat itu :P 5 Bahasa Cinta yang sempat disinggung Ust. Harry diawal artikel lah yang menggelitik saya. Sebelumnya, saya pernah mendengar sekilas tentang apa itu 5 bahasa cinta yang dijelaskan suami. Menurut riset ada 5 tipe bah...

Mulai lagi..

yang lama terlewati karena waktu yang tak kunjung ada.. akhirnya dimulai lagi.. Semoga kali ini lebih konsisten menyelesaikan tugas-tugas yang kan jadi kebiasaan #bundasayang #IIP #InstitutIbuProfesional #batch3 #ibubelajar #ibuberdaya

"Hidupku tak semudah itu"

"enak ya, suaminya mau ngurusin anak-anak" "Aku kalo jadi dirimu mah enak, anaknya anteng semua" "Cuma mba Tika yang bisa, pembantu pulang sebelum dhuhur, dan anak-anak terkondisikan" "Andai suamiku mau ikutan kelas parenting begitu" Masya Alloh, alhamdulillah kalo dikira hidup ay senang-senang terus. Tapi tenang kawan, biar dirimu ayem, sini ay bisikin. " Hidupku tak semudah itu ". Tidak ada satupun yang instan, semua berproses, dan itulah yang menentukan tingkatan kita di mata Alloh. Saya pernah (dan kadang masih) ngambek-ngambekkan dengan suami karena komunikasi yang menemukan jalan buntu, menangis karena merasa bersalah selepas menyakiti anak-anak, mengeluh pada suami karena merasa lelah membersamai mereka, sakit kepala karena menahan marah melihat polah anak, dsb. Cuma apa gunanya ay jelaskan diluar rumah kan ya. Kami memulai semuanya dari ketidaktahuan. Tidak tahu bagaimana seharusnya menjadi seorang istri, suami, dan juga orangt...

mengenal diri

Bismillah.. Berawal dari mengikuti matrikulasi IIP, saya kemudian sadar bila sama sekali belum paham apa peran hidup saya, makna hidup saya. Saya menjalani hidup hanya karena harus dijalani, karena sudah semestinya. Akibatnya, tidak ada peningkatan disana-sini, yang ada hanya saya yang semakin hari semakin terpuruk pada rutinitas menjemukan tanpa batas. Saya mudah stres, saya lekas naik pitam, anak dan suami jadi korbannya 😰.  For Things to Change, I must Change First Kata-kata bu Septi inilah yang kemudian saya pegang teguh. Saya selama ini mengharapkan orang-orang yang memahami saya, mengharapkan mereka yang berusaha menyamankan saya, tanpa saya berusaha sama sekali. Iya, saya salah besar.  Pelan-pelan saya mem breakdown diri saya. Perasaan saya, kebutuhan saya dsb. Saya memutuskan mulai dari mengenal diri saya sendiri karena jujur saya bahkan tidak mengenali kelebihan dan kekurangan diri saya. pathetic .  Mulailah kemudian dari matrikulasi, saya mengen...

School for HS facilitator

Sejak pulang dari kunjungan belajar di Salatiga, saya dan paksuami makin merasa butuh belajar sesegera mungkin sebagai fasilitator anak-anak homeschool inih. Secara yah, kami merasa miskin ilmu sekali baik dalam dunia keilmuan umum maupun pendidikan anak. Ntah bagaimana nanti mereka memilih mendapat ilmu dengan atau tanpa pendampingan kami, kami merasa butuh belajar sebanyak-banyaknya dahulu. Angin segar ketika selang seminggu sepulang dari Salatiga, saya diinfokan seorang teman bahwa pak Dodik dan bu Septi akan mengadakan event bertajuk ' School for Homeschool Fa cilitator '. Itulah mengapa saya butuh FB saya aktif, karena info-info begini dibagikan di laman FB penyelenggara. Sempat maju mundur cantik untuk mendaftar berkaitan dengan keterbatasan dana akibat sebelumnya baru mendaftar Perak 2016. Dan, kebobrokan pengaturan uang kami juga turut andil kegalauan mamak untuk mendaftar. Tapi karena merasa memang butuh, mendaftarlah suami tanpa diganduli anak istri. Acara ini d...

Berproses..

Namanya juga hidup, berproses itu pastilah ya.. Masa mau segitu-segitu aja kualitasnya, masa mau itu-itu aja bisanya, begitu jugalah dengan saya. Dulu mungkin saya belum terlalu pandai memaknai hidup, sekarangpun masih  belum. Namun sudah lumayan lah bisa menggeser sedikit sudut pandang, sudah 27 tahun, jeh :p Saya baru merasa benar-benar mengalami naik turun kehidupan ketika saya memutuskan menikah. Saya baru 20 tahun kala itu, jelang 21 sebenarnya. Bisa dibayangkan, saya sedang pada puncak keras kepala saya. Saya merasa bisa melakukan apapun, saya merasa sudah jadi orang 'dewasa', saya sudah punya titel baru (istri) dan lain sebagainya. Yang jelas saya merasa superior dibanding kawan-kawan saya. Namun kemudian memasuki biduk pernikahan bukanlah perihal mudah. Untuk kemudian bisa mengalami ketenangan batin saat inilah, saya harus mengalami naik turun proses pendewasaan diri saya. Saya mengalami yang dialami pengantin baru kebanyakan. Sebagai contoh, masalah deng...

Rasa benci..

Bagi orang yang jati dirinya dipengaruhi oleh eksternalnya, perasaannya akan dengan mudah terbentuk bergantung pada keadaan sekitarnya. Kemudian saya jadi sadar. Rasa benci pun begitu. Ia muncul dan pergi tergantung bagaimana orang sekitar membentuk diri saya. Ketika mereka mengkomentari negatif sesuatu yang saya lakukan, saya kemudian jadi enggan atau bahkan benci melakukan hal yang sama kemudian. Terlepas dari positif atau negatif kegiatan tersebut. Saya terlalu memikirkan reaksi orang-orang sekitar saya, dan ini bukan hal yang dengan mudah saya hindari.  Hari ini, setelah menyadarinya, saya kembali mengulik trauma saya, mengulik phobia saya, rasa benci saya. Adakah saya lakukan karena dipengaruhi orang lain ataukah murni dari diri saya sendiri.. Seperti halnya hari ini saya jadi membenci memasak dan segala yang berkaitan dengan dapur karena reaksi pihak luar. Mempelajari diri sendiri, saya jadi mempelajari sekitar saya juga. Bahwa setiap orang tidaklah bisa diperlakuk...

Bebas Facebook?

Saat tulisan ini dibuat..saya (sepertinya) sudah seminggu bebas Facebook. Haha penting banget ya tulisan. Soalnya urusan lepas FB ini agak berat bagi saya pribadi. Kenapa? Karena saya menganggap FB sebagai ladang ilmu. Disana lah tempat berjejaring dengan para 'guru' di hidup saya. Banyak tulisan-tulisan yang sungguh menginspirasi.  Namun terlepas dari manfaat FB itulah, saya mendapatkan banyak juga sisi negatif dari FB. Ketika membaca status-status negatif dari kontak saya, mau tak mau saya (gol. orang eksternal) akan mudah saja terpengaruh. Apalagi saya belum kelar berproses membentuk pribadi utuh, jadi ya gitu deh, perjuangan sekali untuk tetap positif dilingkungan negatif.  Alasan saya kemudian diperkuat dengan kenyataan saya jadi lebih sering pegang gadget. Cek timeline lah, baca-baca postingan orang lah, bahkan sampai window shopping, yang kemudian membuat saya sulit lepas dari gadget. Setelah lama berpikir, saya pikir untuk sementara hingga waktu yang tidak dit...

Terharu atau tersindir..

'Mama, kalau mama repot tidak bisa melakukan yang lain waktu menyusui Bia, mama bisa panggil Qeela. Bilang saja, Qeela cuci baju atau masak air. Nanti Qeela saja yang mengerjakan. Mama susui Bia saja. Biar mama tidak capek' Pagi ini anak gadis besar tetiba bilang seperti itu. Antara terharu dan tersindir.. Ini maksudnya anaknya peduli emak kan?? Sayang mama kan ya? Bukan maksud nyindir emak yang sok repot kan ya? :p Eniwei.. Jaza killahu khoiron anak gadiiiisss... Lekas besaar..bukan berarti biar emak bs dibantuin lho yaa..kekekekee. :* #ODOPfor99days #day17

Bebas pospak..bismillah

Sudah sejak lahiran Bia, emak sukses tidak berpembalut sekali pakai lagi. Bukan karena belum haid, sudah kok. Saat Bia 3 bulan, mamak akhirnya kedatangan tamu bulanan lagi. Sebelum haid, saya memang sudah meniatkan lepas dari pembalut sekali pakai. Lebih kepada takut efek jangka panjang, baik buat saya ataupun lingkungan (suka miris liat tempat sampah saya kalo ada sampah tersebut). Atas saran seorang teman, saya mencoba si mooncup ntuh. Dan yak, saya jatuh cinta setengah mati. Sangat tidak ribet, praktis, dan yang jelas tidak ada lagi sampah pembalut di tempat sampah kami.  Nah, tapi ketika memulai untuk anak sendiri, susahnya bukan main. Saya sebenarnya sudah mengumpulkan clodi sejak anak pertama, sudah memiliki sekitar 15 clodi yang menurut saya sebenarnya cukup saja. Tapi kembali lagi, susah yang namanya memulai.  Sebelumnya clodi hanya saya gunakan saat terpaksa ketika kehabisan pospak disaat tidak bisa langsung membeli. Ketika akhirnya harus belanja bulanan, pospak...

pelajaran dari kalimat sederhana

'Jangan ungkit-ungkit apa yang sudah mama lakuin. Pahalanya lebur. Sayang kan sudah capek-capek, tapi ga ada pahalanya sama sekali..' Saya tertohok. Nasehat sederhana dari suami benar-benar menyadarkan saya. Hal yang seringkali kita lupakan ini sebenarnya suatu yang krusial. Bukankah keinginan kita selama didunia ini untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya sebagai bekal diakhirat. Lantas bagaimana bila usaha kita selama ini pada akhirnya tidak diganjar pahala hanya karena mengungkit sedikit saja, tanpa kita sadar. Akhir-akhir ini saya sedikit lelah. Bolak balik sakit ditambah kemudian anak-anak ikut-ikutan sakit. Sedangkan suami harus ke lokasi. Berangkat subuh pulang malam, nyaris tiap hari. Mungkin bila dihari-hari biasa, dengan kondisi saya yang baik-baik saja, insya Alloh saya tidak mengapa ketika harus mengurus ketiga anak yang sedang tidak enak badan. Tapi ini berbeda karena saya sendiripun sedang sakit. Jadi kemudian ketika suami pulang, saya agak kebablasa...

pengalaman menjadi Host Kuliah Whatsapp

Semenjak awal Januari kemarin, kepengurusan admin group whatsapp Institut Ibu Profesional Cirebon Raya (disingkat IIPCR) diserahkan pada pengurus baru. Satu-satunya warga Indramayu yang ada di group kemudian membuat saya akhirnya mau tidak mau harus mau didaulat menjadi koordinator wilayah Indramayu yang secara otomatis memasukkan saya kedalam jajaran admin group.Sungguh ya, ini perdana bagi saya diminta menjadi admin group besar seperti IIPCR. IIP sendiri termasuk salah satu komunitas ibu-ibu terbesar di Indonesia. Terbayang kan menjadi koordinator ibu-ibu hebat padahal saya jauuuh sekali dari kata 'hebat'. Biasanya, kami para admin mengatur pengadaan kuliah whatsapp (kulwap) tiap bulannya. Mulai dari memutuskan siapa yang kiranya cocok menjadi narasumber, menghubungi dan nego waktu dengan narasumber, terkadang menentukan tema atau judul smpai dengan mengatur jalannya kulwap. Dan malam ini kami alhamdulillahnya bisa mengadakan kulwap perdana ditahun ini dengan narasumber ...

Jodoh..

Pagi, Agaknya hari mendung bikin tetiba ada hawa-hawa mau nulis seputar jodoh (lagi) :P. Beberapa waktu yang lalu, saya dan Rina, membahas banyak hal seputar jodoh. Maklum lah saya jadi tempat curcol kegalauan mba jomblo :P. Kami berdua sedang mereka-reka, mengira-ngira hal apakah yang membuat sepasang suami istri bisa saling kompak sampai maut memisahkan. Bisa saling sayang tanpa godaan orang ketiga dst. Kemudian sampailah kami pada kesimpulan, bahwa lelaki baik hati, sabar, yang ngomongnya selalu alus, yang selalu mengiyakan keinginan istri dan figure lelaki sempurna lainnya malah bukan merupakan lelaki sempurna untuk semua wanita. Lelaki sempurna menurut kami, ialah lelaki yang bisa membawa kami pada hal yang baik, kearah surga.  Maksudnya gimana tu? ya gini nih, cewek keras kepala, mau menang sendiri, nyebelin, cerewet kayak saya, ya cocoknya memang sama cowok yang tegas, keras, ga plin plan, ga banyak omong seperti pak suami :D. Kebayang ga sih kalo saya ketemu cowok y...