Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2017

Kemandirian : Shabia

Bismillah.. Memulai tantangan hari pertama untuk melatih kemandirian Bia. Kurang dari 2 minggu sudah Bia akhirnya lepas menyusu. Menurut saya, ini merupakan salah satu bentuk kemandiriannya. Dan disinilah, semua dimulai. Dari sapih, saya mencoba beranjak ke pemenuhan makannya.  Kemandirian yang ingin saya latih ialah MANDIRI MEMENUHI MAKAN SENDIRI. Bila biasanya saya yang menawarkan ia makan, kali ini saya biarkan ia merasakan sendiri rasa lapar. Menurut saya ini ialah salah satu kemandirian yang perlu dilatih, agar anak paham kebutuhannya sendiri, dan paham bagaimana memenuhinya. Hari pertama ini, saya berusaha menahan diri tidak menawarkan makan. Saya siapkan saja yang ada. Ketika kakak-kakaknya mulai memasuki jam makan dan beranjak mengambil makan, Bia mulai penasaran dan ikut serta ke dapur mengambil piring. Namun saat kakak-kakak mengambil nasi, ia rupanya tidak tertarik. Ia memilih menghentikan aktivitas mengcopy kakak :) Saat kakak-kakak mulai makanlah, ia kemud...

Aliran rasa game level 1 Bunda Sayang

Alhamdulillah.. 1 level berhasil terlewati. 17 hari berhasil tercatat tanpa jeda. Ini kali kedua saya mengikuti kelas Bunda Sayang, saya belajar untuk lebih konsisten di kelas Bunsay yang sekarang. Usaha sekali mempraktekan apa yang saya dapat dikelas. Komunikasi produktif menjadi tema pembuka dikelas Bunda Sayang. Secara teori, saya sudah khatam ketika dulu mengikuti bunsay pertama, namun untuk praktek, hihi, saya mulai lagi dari awal. Awalnya saya pikir akan tidak mudah menemukan kaidah komprod yang bisa saya laporkan di setoran rutin, namun ternyata saya salah. Untuk beberapa hari pertama, saya memang butuh kerja keras untuk menemukan situasi dimana saya bisa mempraktekkan kaidah komprod. Ternyata saya nya lah yang mempersulit diri dengan membatasi diri hanya seputar apa yang saya baca dimateri, padahal sebenarnya esensi yang diutamakan ialah perihal komunikasi. Sebagai manusia, sudah pasti kita menggunakan komunikasi ketika berhubungan dengan manusia lain. Mencoba lepa...

Malam kedua

Malam ini, menutup tugas tantangan di game level 1, saya ingin bercerita sekaligus membuat catatan perihal sapih Bia.. Dimulai kemarin malam, saya sudah kekeuh ikhlas (insya Alloh) untuk menyapih Bia. Paling berat ialah malam pertama. Berulang kali sounding ataupun tawaran menghibur ditolaknya mentah-mentah. Tak jarang, saking kesal pada saya, ia sempat mencubit saya sembari menangis. Ah, andai tidak dikuat-kuatkan, rasanya saya ingin ikut menangis dengannya. Mama belajar ikhlas, nak. Malam itu, saya baru tidur jam 12 malam.. Pagi ini, masih dengan strategi yang sama, ketika ia meminta menyusu, saya selalu menolak sembari mengingatkan bahwa ASI ini untuk adik bayi, sedang Bia sudah bukan bayi lagi. Saya titeni, ia menangis heboh hanya bila memasuki jam tidurnya (ia masih tidur 2x selain tidur malam dalam sehari). Dan tanpa menyusu, akhirnya tidur pagi dan siangpun di skip. Apa yang menjadi tantangan saya selain tangisannya, ialah rasa kantuk saya. Maklumkan, saya terbiasa tidur ...

Hukum Kekekalan Ikhtiar Anak

Tadi pagi, tak seperti biasanya, Qeela mendadak kekeuh minta dibelikan cimin, sebuah jajanan sekolahan yang mangkal didepan SD dekat rumah. Apalagi kondisinya belum mandi apalagi sarapan. Kali ini, saya menolak. Sudah 2 hari berturut-turut ia jajan makanan ber MSG. Jadi saya minta kali ini tidak.  Ia kemudian menangis. Mulai melakukan sesuatu yang disebut Abah Ihsan 'Ikhtiar Anak'. Dari mulai menangis diam-diam sesenggukan, sampai akhirnya berlari ke kamar dan mulai memunculkan suara tangis yang mendayu-dayu. Saya berusaha santai. Tidak terbawa suasana. Sebelum ia berlari ke kamar, saya sudah mencoba mengajak bicara dengan baik. Tanpa terbawa emosi, saya ajak ia berpikir. Apa konsekuensi yang bisa ia dapatkan bila memaksa mengkonsumsi jajanan full MSG berturut-turut selama 3 hari. Bukan, saya bukan mamak-mamak yang melarang anaknya mengkonsumsi MSG, tapi bukan pula mamak yang membebaskan apapun yang dikonsumsi anak. Saya jelaskan pula bahwa kekhawatiran akan sakit peru...

Kita dan parenting

Bismillah Bercerita lagi ya, masih seputar hasil belajar di PSPA wiken kemarin. Disiplin. Hal ini masih menjadi topik hangat diantara saya dan suami. Kami ingin, kegiatan dirumah bisa lebih tertata. Kami pun sebagai orangtua tidak perlu berulang kali mengingatkan.  Sebelumnya, ketika memulai program 1821 di rumah, saya dan suami mengalami sedikit miskomunikasi diantara kami. Akibatnya terjadi kebingungan pada anak-anak. Itulah kemudian kami sepakat membicarakan berdua dulu perihal aturan dirumah sebelum akhirnya meminta pendapat anak-anak. Jadi istilah godog proposal dulu sebelum diacc mereka. Sampai siang ini, saya dan suami kembali membahas perihal S.O.P yang akan dijalankan dirumah. Kali ini membahas batasan serta kebebasan yang bisa didapat anak-anak. Sudah 3 bulan selepas saya mengikuti PSPA, sehingga banyak sekali yang sudah agak terlupa. Alhamdulillah suami dengan setia mengingatkan, membahas ulang, dan menentukan semua bersama. Alhamdulillah sebagai seorang imam, itu...

Membuat Batasan bersama

Sepulang suami saya dari mengikuti seminar PSPA (Program Sekolah Pengasuhan Anak) di Bandung kemarin wiken, kami mulai melaksanakan pe er-pe er dalam keluarga kami. Salah satu pe er kami ialah melengkapi aturan-aturan dan batasan yang ada dirumah. Bila sebelumnya sebagian besar batasan yang sudah dijalankan dirumah adalah keputusan kami orangtua, kali ini kami belajar memutuskan dngan mengikutsertakan suara anak-anak. Menyenangkan karena banyak sekali input yang kami dapat dari mengobrolkan batasan dengan anak-anak. Menentukan aturan yang disepakati bersama dan diakhiri dengan cap jempol tanda sepakat di kertas yang berisi kesepakatan kami. Tugas kami sekarang adalah memastikan bahwa aturan dan batasan yang sudah disepakati itu betul terlaksana dengan baik. Mohon doanya temans #hari14 #tantangan10hari #gamelevel1 #komunikasiproduktif #kuliahbunsayIIP

(masih dengan) Sapih

Bulan ini, Bia menjelang 29 bulan dan iyak mamak belum berhasil juga menyapih si bayik :( Sudah berbagai cara (sepertinya) yang mamak lakukan mengikuti kaidah WWL (Weaning With Love), namun sepertinya masih ada kecenderungan belum ikhlas dihati kami berdua. Memang ya, katanya bila belum ikhlas, ntah kenapa WWL tidak akan berjalan lancar. Siang ini saya kemudian mencoba berikhtiar lagi. Saya ajak bicara Bia kesekian kalinya (ditambah sounding berbulan-bulan lamanya) bahwa ia sudah terlalu besar untuk masih menyusu. Bahwa yang diperbolehkan menyusu ialah adik bayi. Sedang Bia sudah termasuk kakak-kakak. Bila sedang seperti ini, ia akan mengangguk paham. Namun semua berkebalikan ketika ia mulai mengantuk. Saya harus sabar-sabar menghibur maupun mengalihkan perhatiannya. Semakin berat sebenarnya dikarenakan saya tidak memiliki pihak lain yang memantu 'menyelimurkan' Bia. Maka sembari menggendong-gendong bayi yang mulai menjelang tantrum, saya bersamaan harus menemani kakak-k...

Membahasakan diri

Untuk hal membahasakan diri, jujur saya masih belajar sekali. Apalagi bila teman bicaranya ialah suami. Mungkin ini masih dipengaruhi oleh ego yang kadang sesekali masih menyelimuti. Namun, saya ingin belajar dan terus belajar. Mengubah jalinan komunikasi kami berdua agak lebih baik. Saya dan suami terbilang lebih senang menggunakan media online untuk saling berkomunikasi. Membicarakan banyak bahasan dari mulai rumah tangga, anak-anak, pekerjaan, hingga yang remeh sekalipun. Ini merupakan salah satu solusi dari kurangnya waktu mengobrol offline berdua karena kesibukan membersamai anak. Agak susah menemukan waktu yang pas ketika membicarakan hal-hal serius tanpa tercampur dengan kegiatan bersama anak. Maka dari itu, wha*ts*ap solusinya. Pagi ini, kami membicarakan rencana kami ke depan. Hal ini menyangkut diri saya sebetulnya. Ditengah-tengah obrolan, ternyata ada hal yang dikatakan suami yang kemudian memicu sikap sinis saya. Entah kenapa kemudian saya mengetikkan kata-kata ...

Belajar Ridho

Ngomongin Ridho suami, seringkali jadi bahasan yang uhuks. Kita bilangnya ikhlas, tapi beneran ikhlas ga? Kita bilang suami ridho, ini beneran ridho apa 'terpaksa' ridho? Saya masih sangat belajar dalam urusan ini. Belajar menurunkan ego saya. Ini sepenuhnya adalah tanggungjawab saya.  Alhamdulillah suami saya adalah seorang yang terbuka, menerima kritik dengan baik, bisa diajak diskusi. Namun kadang saya sendiri yang terlalu memaksakan idealisme hingga menjurus pada dirinya 'terpaksa' ridho. Semalam lagi-lagi saya seperti diingatkan perihal ridho ini ketika meminta ijinnya untuk tidak hadir disebuah kajian karena memberatkan bertemu teman. Salah saya ialah ketika meminta ijin tidak disertai penjelasan detail kenapa saya memilih bertemu teman-teman. Hasil dari kekurangjelasan ialah, tidak turunnya ijin dari suami. Apakah saya ikhlas? huhu berat. Tapi apakah ini sudah final? Saya kemudian mulai mencari celah. Kira-kira mana hal yang bisa saya usahakan untuk meng...

tanpa kesepakatan

Bila kesepakatan sudah ada, memang akan lebih mudah menjalankan peraturan dirumah. Namun bagaimana untuk hal-hal yang belum disepakati? Pagi ini saya dibikin mengkonsumsi banyak oksigen (alias bolak balik tarik hembus nafas XD).  Cuaca Mundu pagi ini mendung. Dingin. Begitu juga dengan air dikamar mandi. Maka saya menyiapkan air panas untuk mandi anak-anak. Saya siapkan di bak plastik mereka. Cukup untuk bertiga. Saat itu, kakak-kakak sudah masuk kamar mandi duluan. Bia dan saya menyusul nanti karena menyelesaikan makan terlebih dahulu. Selang beberapa saat, kami berdua masuk kamar mandi dan kakak-kakak rupanya sudah selesai dan beranjak keluar KM. Betapa kagetnya saya, air dibak plastik sudah habis. dan kamar mandi sudah basah kuyup setembok-tembok langitnya. Oalah rupanya mereka bermain dengan air mandi hangatnya. Mau marah? kesal? sebal? ya tentu. Manusiawi. Dari semua rasa, yang kita kontrol ialah outputnya. Mau dikeluarin marah-marah atau gimana. Teringat s...

tantrum

Anak ketiga saya, Shabia, cenderung agak lama untuk bisa bicara dengan jelas. Usianya kini nyaris 2,5 tahun, namun kejelasan bicaranya masih terbilang susah dimengerti. Saya pribadi lebih santai, karena selain masih dalam taraf normal, kakaknya yang kedua mengalami hal yang sama. Tapi, tantangan saya jadinya ialah memahami dan memahamkan Bia terhadap komunikasi kami. Tidak memahami bahasanya, bukan berarti saya lantas tidak mengajaknya bicara. Saya rajin mengajaknya bicara, membacakan buku. Jadi, walau saya kurang paham maksudnya, ia alhamdulillah paham maksud saya :D Siang ini ia menangis keras..Meminta chips yang dimakan kakak-kakaknya padahal ia belum selesai makan siang.  "Bia mau makan itu?" dibalas anggukannya "Makannya diselesaikan dulu yaa" ternyata ia mulai menunjukkan tanda tantrum, tangisnya makin keras. Menarik-narik baju saya, dari gesturenya, ia mulai tidak sabar. Makanan yang saya suapkan ditampiknya. Oke Sabar. Senyum. Ta...

Pujian untukmu😘

Siang ini Qeela pulang bersepeda dengan terpincang-pincang.. 'Qeela jatuh waktu lari tadi mama', sembari menunjukkan luka lecet menganga dikedua lutut berikut siku kirinya.  Saya sempat menawarkan mengobati, namun ia menolak. Menanti perihnya hilang katanya.. Sore ini, ketika sholat Ashar bersama, saya menyadari bahwa ternyata ia kesulitan melakukan beberapa gerakan sholat dikarenakan kondisinya. Saya mencoba menahan diri untuk berkomentar ataupun memberikan keringanan baginya. Sambil menahan sakit dengan sesekali meringis, ia tetap melakukan keseluruhan gerakan sholat. Walau dengan begitu, sholat kami memakan waktu agak sedikit lama karena saya menanti ia mencoba menyempurnakan gerakannya yang perlahan. Ketika sholat selesai, terjadilah dialog antara kami berdua. 'Qeela, kakinya masih sakit ya? Susah buat sholatkah?' 'iya mama. Qeela sampe bingung tadi pas mau sujud. Pas di lukanya' 'ga apa ya, pelan-pelan' 'iya ga apa' ...

Kesepakatan diawal

Pernah ga sih, kita berulang-ulang mengingatkan anak-anak ketika melakukan sesuatu? kadang lelah memberitahu ditambah mood ibu yang kadang naik turun, tanpa sadar niat mengingatkan itu malah beralih menjadi marah-marah? Saya pernah. Sering malah :( Sebalnya itu pada diri sendiri, tau teori,  tapi koq ya tetap saja kegoda untuk ngomel-ngomel. Abisan gimana ya, anak-anak rasanya tidak terlalu memperhatikan apa yang saya maksudkan. Akhirnya saya merasa harus berulang-ulang mengingatkan. Nah, ternyata, kemarin ketika mengikuti kelas kurikulum, saya belajar untuk praktek langsung membuat kesepakatan dengan anak. Ini enak banget deh, meringankan tugas mulut untuk bolak-balik mengingatkan. Dipikir-pikir sekarang, ini juga salah satu pendukung utama terbangunnya komunikasi produktif. Stock sabar berlimpah, Misuh-misuh berkurang, komunikasi produktif aman :D Seperti sore ini, ketika anak-anak bermain diluar rumah. Bila sebelumnya saya harus bolak balik memanggil mereka untuk...

kegagalan pertama

Memasuki hari ke 6 dari tantangan 10 hari kelas Bunda Sayang IIP. Namanya proses, perjalanan tidak akan selalu menyenangkan, pasti ada kalanya kita menemui kesulitan. Begitu juga dengan proses membentuk komunikasi Produktif dengan anggota keluarga. Saat yang saya khawatirkan pun datang juga :( Dari kemarin saya sudah sounding anak-anak bahwa kami akan berangkat pagi-pagi dari rumah menuju Cirebon hari ini karena ada kumpul Komunitas Bestari. Acara sebenarnya baru akan mulai jam 10.00 WIB, namun karena mempertimbangkan kondisi yang mudah lelah sayapun memutuskan menumpang bis sekolah jam setengah 7. Yah, harapan ternyata tak sesuai kenyataan. Pagi ini anak-anak bangun kesiangan, saya pun harus lari-larian menyiapkan kebutuhan dan mempersiapkan mereka. Alhamdulillah masih dibantu suami, namun qodarulloh, kami ketinggalan bis :(( Mungkin inilah yang menjadi awal ketidaknyamanan mood saya hari ini. Saya yang sudah kadung berjanji bertemu dengan teman-teman, akhirnya dengan terpaksa ha...

7.38.55

Nah eta, angka apakah itu? hihihi. Biasanya emak-emak itu (apalagi beta), mudah sekali keluar komen-komen yang sebenarnya niatnya baik, tapi jatuhnya kayak orang ngomel. Iya itulah aku banget. Niatnya khawatir, malah jadi marahin. Niatnya ngajak main, malah jadi merintah. Aih, serba salah. Nah itu kan saat emak belum ngeh ya kalo ternyata komunikasi mah butuh ilmu juga. Ga asal njeplak. Hati sakit akibatnya. Jadi kemudian mulai lagi menata serpihan-serpihan ilmu yang didapat diluar sana, menyatukan jadi sebuah wawasan baru, memantapkan hati untuk memulai, dan jangan lupa bilang BISMILLAH :D Jadi selepas bersepeda pagi seperti biasa, tiba-tiba Qeela masuk rumah sembari menangis. Tanpa permisi melanjut ke kamar. Saya yang kebingungan, akhirnya menyusul. Ketika bertanya, Ia tetap saja tidak mau menjawab. Naluri innerchild saya sempat akan muncul (saya paling tidak kuat mendengar anak menangis, tiba-tiba muncul rasa bersalah berat), namun saya tahan sebisa mungkin. Saya tau, ketik...

Memulai tanpa ekspektasi

Memasuki hari ke 4 membangun komunikasi produktif diantara kami..alhamdulillah.. Mau sedikit cerita ah, saya ini orangnya gampang-gampang susah. Terkadang agak sulit menerima ketika dikritik orang terdekat. Entah kenapa ego saya lah yang selalu maju duluan. Eh bukan entah kenapa dink, dasar saya yang belum kelar memanage diri :p Nah, seringkali masalah inilah yang menjadi titik awal mula permasalahan antara saya dan suami. Saya yang terkadang punya salah (namanya juga manusia, sist :D ), saat dikritik suami malah tidak terima. Biasanya akan terjadi proses 'ngeyel' dari saya. Suami yang pada dasarnya tidak menyukai konflik akhirnya memilih untuk diam saja. Mengalah.  Belakangan, saya sadar saya yang salah. Bila begini terus, lantas kapan saya melakukan perbaikan diri. Kalo begini terus, sama saja saya 'memutilasi' peranan suami sebagai imam yang seharusnya mendidik saya. Akhirnya mulailah saya kembali utarakan maksud saya. Saya mohon ridhonya untuk mulai k...

Bahasa Cinta

Kemarin siang, saya membaca sebuah tulisan Ust. Harry Santosa di group HEbAT JABAR yang saya dan suami ikuti. Biasanya, Ust. Harry membahas mengenai tahapan perkembangan anak menyesuaikan pada fitrahnya. Namun kali ini agak berbeda. Visi Misi Pernikahan dan Keluarga. Saya sebenarnya tidak terlalu kaget karena sempat dibahas sedikit oleh mba Artri yang saya temui minggu lalu. Ust. Harry membahas bagaimana perlunya setiap keluarga memiliki visi misi yang jelas atas tujuan dari keluarga ini. Sebagai patokan ketika keputusan baik itu diambil oleh individu didalam keluarga atau sebagai satu kesatuan keluarga Patokan itulah yang akan menjadi penguat dan perekat setiap anggota keluarga. Trus saya bakal bahas visi misi keluarga? Sayangnya bukan, ilmunya masih belum sekuat itu :P 5 Bahasa Cinta yang sempat disinggung Ust. Harry diawal artikel lah yang menggelitik saya. Sebelumnya, saya pernah mendengar sekilas tentang apa itu 5 bahasa cinta yang dijelaskan suami. Menurut riset ada 5 tipe bah...

hari ke 2 :Komunikasi Produktif

Kemarin, saya berkesempatan mengikuti Kelas Kurikulum di yang diadakan oleh KeluargaKita. Kali ini tema yang diangkat ialah Disiplin Positif. Alhamdulillah mengikuti acara parenting semacam ini ialah salah satu kemewahan yang bisa saya dapatkan (balada emak rempong anak) Bagaimana anak-anak? alhamdulillah, (menurut cerita suami) aman sentosa lahir batin setelah keliling kebun binatang dan berputar-putar Bandung sesiangan.  Nah, seperti biasa, sekelarnya mengikuti acara begini, saya dan suami akan butuh beberapa waktu untuk mengobrol berdua. Alhamdulillahnya dalam perjalanan pulang, anak-anak tertidur sepanjang 3 jam perjalanan. Di saat seperti itulah saya bisa menyampaikan pesan dan merefleksikan apa yang saya pelajari tadi ke dalam kehidupan berkeluarga kami. Saya dan suami  menjadikan moment ngobrol santai berdua sepanjang jalan itu sebagai salah satu cara menyamakan FoE ( frame of experiences ) dan FoR (frame of references ) kami.  Nagih yak ternyata mengobrolkan ...

Mengawali...

Gambar
Mengikuti kelas Bunda Sayang lagi, berarti harus siap memulai mengecek kembali apa-apa yang sudah berjalan dikeluarga kami.. Dan sesuai jadwal, materi perdana Bunda Sayang ialah #KomunikasiProduktif Hari ini menjadi hari pertama tantangan di materi 1.  Nah, seperti postingan sebelumnya, hal pertama yang harus dilakukan ialah mengidentifikasikan kondisi keluarga kita. Dan kali ini saya memilih memperbaiki (lagi) komunikasi diantara saya dan suami.  So...mengidentifikasikan kondisi ialah dengan ngobrol bareng peer kita (dalam komunikasi produktif). Dengan suami, baru memulai langsung dapat pe er. Semangatt semangatt😘😘😘 #hari1 #tantangan10hari #kuliahbunsayiip #gamelevel1 #komunikasiproduktif