Postingan

Menampilkan postingan dengan label family

kegagalan pertama

Memasuki hari ke 6 dari tantangan 10 hari kelas Bunda Sayang IIP. Namanya proses, perjalanan tidak akan selalu menyenangkan, pasti ada kalanya kita menemui kesulitan. Begitu juga dengan proses membentuk komunikasi Produktif dengan anggota keluarga. Saat yang saya khawatirkan pun datang juga :( Dari kemarin saya sudah sounding anak-anak bahwa kami akan berangkat pagi-pagi dari rumah menuju Cirebon hari ini karena ada kumpul Komunitas Bestari. Acara sebenarnya baru akan mulai jam 10.00 WIB, namun karena mempertimbangkan kondisi yang mudah lelah sayapun memutuskan menumpang bis sekolah jam setengah 7. Yah, harapan ternyata tak sesuai kenyataan. Pagi ini anak-anak bangun kesiangan, saya pun harus lari-larian menyiapkan kebutuhan dan mempersiapkan mereka. Alhamdulillah masih dibantu suami, namun qodarulloh, kami ketinggalan bis :(( Mungkin inilah yang menjadi awal ketidaknyamanan mood saya hari ini. Saya yang sudah kadung berjanji bertemu dengan teman-teman, akhirnya dengan terpaksa ha...

7.38.55

Nah eta, angka apakah itu? hihihi. Biasanya emak-emak itu (apalagi beta), mudah sekali keluar komen-komen yang sebenarnya niatnya baik, tapi jatuhnya kayak orang ngomel. Iya itulah aku banget. Niatnya khawatir, malah jadi marahin. Niatnya ngajak main, malah jadi merintah. Aih, serba salah. Nah itu kan saat emak belum ngeh ya kalo ternyata komunikasi mah butuh ilmu juga. Ga asal njeplak. Hati sakit akibatnya. Jadi kemudian mulai lagi menata serpihan-serpihan ilmu yang didapat diluar sana, menyatukan jadi sebuah wawasan baru, memantapkan hati untuk memulai, dan jangan lupa bilang BISMILLAH :D Jadi selepas bersepeda pagi seperti biasa, tiba-tiba Qeela masuk rumah sembari menangis. Tanpa permisi melanjut ke kamar. Saya yang kebingungan, akhirnya menyusul. Ketika bertanya, Ia tetap saja tidak mau menjawab. Naluri innerchild saya sempat akan muncul (saya paling tidak kuat mendengar anak menangis, tiba-tiba muncul rasa bersalah berat), namun saya tahan sebisa mungkin. Saya tau, ketik...

Memulai tanpa ekspektasi

Memasuki hari ke 4 membangun komunikasi produktif diantara kami..alhamdulillah.. Mau sedikit cerita ah, saya ini orangnya gampang-gampang susah. Terkadang agak sulit menerima ketika dikritik orang terdekat. Entah kenapa ego saya lah yang selalu maju duluan. Eh bukan entah kenapa dink, dasar saya yang belum kelar memanage diri :p Nah, seringkali masalah inilah yang menjadi titik awal mula permasalahan antara saya dan suami. Saya yang terkadang punya salah (namanya juga manusia, sist :D ), saat dikritik suami malah tidak terima. Biasanya akan terjadi proses 'ngeyel' dari saya. Suami yang pada dasarnya tidak menyukai konflik akhirnya memilih untuk diam saja. Mengalah.  Belakangan, saya sadar saya yang salah. Bila begini terus, lantas kapan saya melakukan perbaikan diri. Kalo begini terus, sama saja saya 'memutilasi' peranan suami sebagai imam yang seharusnya mendidik saya. Akhirnya mulailah saya kembali utarakan maksud saya. Saya mohon ridhonya untuk mulai k...

Bahasa Cinta

Kemarin siang, saya membaca sebuah tulisan Ust. Harry Santosa di group HEbAT JABAR yang saya dan suami ikuti. Biasanya, Ust. Harry membahas mengenai tahapan perkembangan anak menyesuaikan pada fitrahnya. Namun kali ini agak berbeda. Visi Misi Pernikahan dan Keluarga. Saya sebenarnya tidak terlalu kaget karena sempat dibahas sedikit oleh mba Artri yang saya temui minggu lalu. Ust. Harry membahas bagaimana perlunya setiap keluarga memiliki visi misi yang jelas atas tujuan dari keluarga ini. Sebagai patokan ketika keputusan baik itu diambil oleh individu didalam keluarga atau sebagai satu kesatuan keluarga Patokan itulah yang akan menjadi penguat dan perekat setiap anggota keluarga. Trus saya bakal bahas visi misi keluarga? Sayangnya bukan, ilmunya masih belum sekuat itu :P 5 Bahasa Cinta yang sempat disinggung Ust. Harry diawal artikel lah yang menggelitik saya. Sebelumnya, saya pernah mendengar sekilas tentang apa itu 5 bahasa cinta yang dijelaskan suami. Menurut riset ada 5 tipe bah...

"Hidupku tak semudah itu"

"enak ya, suaminya mau ngurusin anak-anak" "Aku kalo jadi dirimu mah enak, anaknya anteng semua" "Cuma mba Tika yang bisa, pembantu pulang sebelum dhuhur, dan anak-anak terkondisikan" "Andai suamiku mau ikutan kelas parenting begitu" Masya Alloh, alhamdulillah kalo dikira hidup ay senang-senang terus. Tapi tenang kawan, biar dirimu ayem, sini ay bisikin. " Hidupku tak semudah itu ". Tidak ada satupun yang instan, semua berproses, dan itulah yang menentukan tingkatan kita di mata Alloh. Saya pernah (dan kadang masih) ngambek-ngambekkan dengan suami karena komunikasi yang menemukan jalan buntu, menangis karena merasa bersalah selepas menyakiti anak-anak, mengeluh pada suami karena merasa lelah membersamai mereka, sakit kepala karena menahan marah melihat polah anak, dsb. Cuma apa gunanya ay jelaskan diluar rumah kan ya. Kami memulai semuanya dari ketidaktahuan. Tidak tahu bagaimana seharusnya menjadi seorang istri, suami, dan juga orangt...