Postingan

Menampilkan postingan dengan label parenting

Apa yang diajarkan?

Biasanya, setelah mengobrol dengan seseorang, saya akan menemukan insight dari hasil obrolan itu. Entah insight itu asalnya dari teman ngobrol, ataupun dari diri saya sendiri. Saya meyakini bahwa berbagi adalah salah satu cara untuk belajar. Iya belajar memahami dan mengolah pikiran saya sendiri yang kemudian menghasilkan kesimpulan yang saya butuhkan.  Dan iya, malam itu kawan mengobrol saya adalah mba Novi. Mba Novi banyak membantu saya selama ini dalam menemukan kekuatan diri saya sendiri. Membantu saya menyimpulkan dan meringkas benang ruwet di kepala yang selama ini berputar-putar kesana kemari. Malam itu pun begitu, ia membantu saya menemukan cara lain memandang proses Homeschooling keluarga kami.  Semua diawali dengan pertanyaan sederhana. Lu kenapa HS? Anak-anak udah sampai mana, Ka? Pertanyaannya sederhana, pendek, tapi bikin emak puter ulang semua bayangan awal ketika memutuskan HS, mengingat kembali proses yang selama ini sudah dilewati, k...

7.38.55

Nah eta, angka apakah itu? hihihi. Biasanya emak-emak itu (apalagi beta), mudah sekali keluar komen-komen yang sebenarnya niatnya baik, tapi jatuhnya kayak orang ngomel. Iya itulah aku banget. Niatnya khawatir, malah jadi marahin. Niatnya ngajak main, malah jadi merintah. Aih, serba salah. Nah itu kan saat emak belum ngeh ya kalo ternyata komunikasi mah butuh ilmu juga. Ga asal njeplak. Hati sakit akibatnya. Jadi kemudian mulai lagi menata serpihan-serpihan ilmu yang didapat diluar sana, menyatukan jadi sebuah wawasan baru, memantapkan hati untuk memulai, dan jangan lupa bilang BISMILLAH :D Jadi selepas bersepeda pagi seperti biasa, tiba-tiba Qeela masuk rumah sembari menangis. Tanpa permisi melanjut ke kamar. Saya yang kebingungan, akhirnya menyusul. Ketika bertanya, Ia tetap saja tidak mau menjawab. Naluri innerchild saya sempat akan muncul (saya paling tidak kuat mendengar anak menangis, tiba-tiba muncul rasa bersalah berat), namun saya tahan sebisa mungkin. Saya tau, ketik...

"Hidupku tak semudah itu"

"enak ya, suaminya mau ngurusin anak-anak" "Aku kalo jadi dirimu mah enak, anaknya anteng semua" "Cuma mba Tika yang bisa, pembantu pulang sebelum dhuhur, dan anak-anak terkondisikan" "Andai suamiku mau ikutan kelas parenting begitu" Masya Alloh, alhamdulillah kalo dikira hidup ay senang-senang terus. Tapi tenang kawan, biar dirimu ayem, sini ay bisikin. " Hidupku tak semudah itu ". Tidak ada satupun yang instan, semua berproses, dan itulah yang menentukan tingkatan kita di mata Alloh. Saya pernah (dan kadang masih) ngambek-ngambekkan dengan suami karena komunikasi yang menemukan jalan buntu, menangis karena merasa bersalah selepas menyakiti anak-anak, mengeluh pada suami karena merasa lelah membersamai mereka, sakit kepala karena menahan marah melihat polah anak, dsb. Cuma apa gunanya ay jelaskan diluar rumah kan ya. Kami memulai semuanya dari ketidaktahuan. Tidak tahu bagaimana seharusnya menjadi seorang istri, suami, dan juga orangt...

Reward untuk anak: perlu atau tidak?

Pagi ini group whatsapp homeschooling ramai. Bahasan ibu-ibu kali ini seputar reward untuk anak, dan banyak sekali komen-komen pendapat dari beberapa teman. Perbedaan itu biasa dalam diskusi kami karena kami juga paham bahwa pelaku homeschooling memiliki rules masing-masing dalam keluarga mereka, begitu juga saya dan suami. Kami berdua sepakat untuk tidak terlalu membiasakan anak-anak dengan reward untuk hal-hal baik yang mereka lakukan. Jadi bukan saklek untuk meniadakan reward ya, hanya saja meminimalisir, apalagi yang berupa materi. Menurut kami, reward diberikan diakhir dan tidak dijanjikan diawal, karena nantinya menjadi sogokan :p. Untuk setiap hal baik atau menyenangkan yang mereka lakukan, kami beri cium/pelukan. Bisa juga dengan jempol untuk menunjukkan bahwa kami senang dengan apa yang mereka lakukan. Ketika pada saatnya kami memberikan reward berupa benda, biasanya benda tersebut adalah hal yang memang mereka butuhkan. Bisa berupa pakaian atau permainan edukatif. Itupun ka...

Parenting..

Ini agak random sebenarnya.. lagi ngapain trus tetiba pengen nulis apaan.. Hari ini group-group komunitas di WA agak sedikit ramai. Dengan macam-macam kulwapnya yang kebanyakan belum saya baca tuntas (maklumkan dengan kegiatan rumahtangga tanpa ART dengan 3 balita). Kemudian diakhir kulwap, justru banyak sekali diskusi yang malah lebih menarik perhatian saya.  Seperti halnya diskusi emak-emak pada umumnya, ada yang curhat seputar permasalahan pendidikan anaknya, dan ada pula yang turut rembug memberikan solusi. Selama ini saya hanya sebagai silent reader . Masuk group cuma pagi hari saat absensi. Selebihnya, lebih sering membaca hasil kulwap atau obrolan ibu-ibu itu dimalam hari atau ketika sedang santai kelar menyusui Bia.  Malam ini, obrolan berlanjut seputar tantrum. Iyak tantrum. Masalah kebanyakan orang tua. Memang kenyataannya tidak semua anak-anak mesti melalui masa tantrum, tapi ya kebanyakan iya. Saya sendiri, benar-benar mengalami ketika sudah ber...

Belajar Dari Anak2...

Dulu ya, mikirnya dalam urusan parenting, kitalah pihak yang megajar, sedang anak2 pihak yang diajar. Tapi semakin waktu berjalan, trus dengan 2 anak ini, semakin saya belajar..ternyata, saya lah muridnya, dan mereka berdua guru saya. Dari Qeela yang sabar, dewasa, tidak mudah terbawa suasana, namun sensitif, saya merasa tertohok. Semua sifatnya seperti sengaja ditonjolkan oleh Alloh untuk menyindir saya. Karena kesemuanya itu kebalikan dari sifat saya. Boleh ditanya ke sumber terpercaya, kalo kami berdua berinteraksi, siapa yang paling sering ngambek..sudah tentu saya..dan Qeela jadi pihak yang memaklumi, mengikhlaskan, mengalah. Seringkali dia yang meminta maaf. Terkadang saya malah jadi semakin manja dan keras kepala kalo sudah berurusan dengan Qeela. Aihh...anak mama ini, tidak pernah lepas kekaguman pada sifatmu nak. Insya Alloh jadi anak sholeha selalu, alhamdulillah so far doa mama terkabul yak.. Sedangkan Anya, sifat kerasnya, gengsi tingginya, juteknya, dinginnya, hah...