Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2016

Anya: Perdana mandi hujan

Gambar
Hari ini tetiba hujan derasss sekali. Tidak seperti biasanya yang hanya rintik-rintik. Sesuai janji kami dari dulu, ketika hujan deras dan tanpa petir, anak-anak kami perbolehkan main hujan. Begitulah sore ini. Saya dan si ayah tumbuh dimasa dimana main diluar itu ialah satu-satunya kegiatan kami di waktu luang. Main di got, mengejar layangan putus, naik gunung, tidak ketinggalan bermain hujan. Sudah jadi keinginan kami untuk anak-anak memiliki masa kecil seperti itu. Makanya sejak lama, anak-anak sudah dibolehkan mandi hujan. Hanya saja, tinggal di pinggir laut begini, curah hujan tak sbanyak ditempat lain. Sekalinya hujan, hanya rintik-rintik. Kalo pun deras, hujannya malam hari. Seingat saya ya, sejak masuk musim hujan, baru hari ini, sepindah kami kemari, hujan turun deras di siang-sore hari. Anak-anak girang, berlarian ke halaman belakang. Untuk Anya sendiri, inilah pengalaman pertamanya. Dulu saat kecil, ia takut bila saya ajak main hujan. Dan ketika sekarang bisa, bukan kepa...

Reward untuk anak: perlu atau tidak?

Pagi ini group whatsapp homeschooling ramai. Bahasan ibu-ibu kali ini seputar reward untuk anak, dan banyak sekali komen-komen pendapat dari beberapa teman. Perbedaan itu biasa dalam diskusi kami karena kami juga paham bahwa pelaku homeschooling memiliki rules masing-masing dalam keluarga mereka, begitu juga saya dan suami. Kami berdua sepakat untuk tidak terlalu membiasakan anak-anak dengan reward untuk hal-hal baik yang mereka lakukan. Jadi bukan saklek untuk meniadakan reward ya, hanya saja meminimalisir, apalagi yang berupa materi. Menurut kami, reward diberikan diakhir dan tidak dijanjikan diawal, karena nantinya menjadi sogokan :p. Untuk setiap hal baik atau menyenangkan yang mereka lakukan, kami beri cium/pelukan. Bisa juga dengan jempol untuk menunjukkan bahwa kami senang dengan apa yang mereka lakukan. Ketika pada saatnya kami memberikan reward berupa benda, biasanya benda tersebut adalah hal yang memang mereka butuhkan. Bisa berupa pakaian atau permainan edukatif. Itupun ka...

pelajaran dari kalimat sederhana

'Jangan ungkit-ungkit apa yang sudah mama lakuin. Pahalanya lebur. Sayang kan sudah capek-capek, tapi ga ada pahalanya sama sekali..' Saya tertohok. Nasehat sederhana dari suami benar-benar menyadarkan saya. Hal yang seringkali kita lupakan ini sebenarnya suatu yang krusial. Bukankah keinginan kita selama didunia ini untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya sebagai bekal diakhirat. Lantas bagaimana bila usaha kita selama ini pada akhirnya tidak diganjar pahala hanya karena mengungkit sedikit saja, tanpa kita sadar. Akhir-akhir ini saya sedikit lelah. Bolak balik sakit ditambah kemudian anak-anak ikut-ikutan sakit. Sedangkan suami harus ke lokasi. Berangkat subuh pulang malam, nyaris tiap hari. Mungkin bila dihari-hari biasa, dengan kondisi saya yang baik-baik saja, insya Alloh saya tidak mengapa ketika harus mengurus ketiga anak yang sedang tidak enak badan. Tapi ini berbeda karena saya sendiripun sedang sakit. Jadi kemudian ketika suami pulang, saya agak kebablasa...

pengalaman menjadi Host Kuliah Whatsapp

Semenjak awal Januari kemarin, kepengurusan admin group whatsapp Institut Ibu Profesional Cirebon Raya (disingkat IIPCR) diserahkan pada pengurus baru. Satu-satunya warga Indramayu yang ada di group kemudian membuat saya akhirnya mau tidak mau harus mau didaulat menjadi koordinator wilayah Indramayu yang secara otomatis memasukkan saya kedalam jajaran admin group.Sungguh ya, ini perdana bagi saya diminta menjadi admin group besar seperti IIPCR. IIP sendiri termasuk salah satu komunitas ibu-ibu terbesar di Indonesia. Terbayang kan menjadi koordinator ibu-ibu hebat padahal saya jauuuh sekali dari kata 'hebat'. Biasanya, kami para admin mengatur pengadaan kuliah whatsapp (kulwap) tiap bulannya. Mulai dari memutuskan siapa yang kiranya cocok menjadi narasumber, menghubungi dan nego waktu dengan narasumber, terkadang menentukan tema atau judul smpai dengan mengatur jalannya kulwap. Dan malam ini kami alhamdulillahnya bisa mengadakan kulwap perdana ditahun ini dengan narasumber ...

Lupa diri

Beberapa hari ini saya sedang kurang produktif. Baik dalam kseharian atau menulis. Iya, karena sakit :( Seringkali lalai dengan hal begini, lupa diri makan sembarangan, lupa tidur cukup, terlalu memberatkan diri sendiri. Dikira wonderwoman kali ya. Tau-tau kemudian nggletak saja. Kepala pusing, magh kambuh, badan sakit semua. Kalo sudah begitu, sehatnya lama. Ini sudah seminggu dan belum benar-benar fit. Sehat sedikit-aktivitas berlebih-sakit lagi. Uprek uprek begitu terus :( Taulah sendiri, punya anak 3 yang lagi aktif-aktifnya. Dingat-ingat sejak Bia lebih aktif begni, saya jadi jarang tidur siang. Malamnya tidur kemalaman, karena kekeuh belum 'me time' -baca: Nonton korea- . Sakit dbuat sendiri :D Ini posting apa? Random. Cuma pengen nulis, tapi ga punya topik. Udah ah, anak-anak minta diurus. Wassalam #ODOPfor99days # day9

Jodoh..

Pagi, Agaknya hari mendung bikin tetiba ada hawa-hawa mau nulis seputar jodoh (lagi) :P. Beberapa waktu yang lalu, saya dan Rina, membahas banyak hal seputar jodoh. Maklum lah saya jadi tempat curcol kegalauan mba jomblo :P. Kami berdua sedang mereka-reka, mengira-ngira hal apakah yang membuat sepasang suami istri bisa saling kompak sampai maut memisahkan. Bisa saling sayang tanpa godaan orang ketiga dst. Kemudian sampailah kami pada kesimpulan, bahwa lelaki baik hati, sabar, yang ngomongnya selalu alus, yang selalu mengiyakan keinginan istri dan figure lelaki sempurna lainnya malah bukan merupakan lelaki sempurna untuk semua wanita. Lelaki sempurna menurut kami, ialah lelaki yang bisa membawa kami pada hal yang baik, kearah surga.  Maksudnya gimana tu? ya gini nih, cewek keras kepala, mau menang sendiri, nyebelin, cerewet kayak saya, ya cocoknya memang sama cowok yang tegas, keras, ga plin plan, ga banyak omong seperti pak suami :D. Kebayang ga sih kalo saya ketemu cowok y...

Piknik Komunitas Bestari : Pantai Tirtamaya

Hari ini merupakan hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan buat saya. Hari ini, hari Senin, seperti biasa menjadi hari kumpul rutin Komunitas Bestari. Hanya saja minggu ini berbeda. Acara mingguan kali ini saya digilir sebagai Penanggung Jawab kegiatan serta acara. Sempat bingung ingin mengadakan kumpul dimana, sedang kalau dirumah saja sepertinya anak-anak cepat bosan, saya dan suami setuju mengangkat tema 'Piknik di Pantai' untuk kegiatan minggu ini yang kemudian langsung disambut ramai oleh teman-teman di group. Sayangnya, hari ini kegiatan berjalan dengan tanpa formasi lengkap. Mba Widya harus secara mendadak ke Jakarta untuk mengurus surat pindah, Mba Yuni dan Mba Ratna yang sedang sakit, dan mba Rini yang baru kemarin minggu pulang dari Umroh dan ingin istirahat dulu. Jadilah hari ini hanya tim kak Enno, Teh Evie dan mba Cas yang datang. Awalnya saya pikir akan berasa sepi, ternyata salah besar. Baik anak-anak maupun ibu-ibunya tetap bisa menikmati kebersamaan ka...

Weekend santai

Weekend ini agak berbeda dari biasanya. Kalau biasanya setiap weekend kami merencanakan acara diluar rumah, weekend ini kami habiskan dirumah saja. Bermula dari kemarin ART ijin tidak masuk dikarenakan sakit dan saya yang seharusnya take over kerjaan rumah pun ikutan sakit. Alhamdulillahny kemudian ada suami siaga yang siap sedia mengerjakan kerjaan rumah bin mengurus anak-anak sementara saya fokus istirahat dan mengurus Bia saja. Kerjaan dari mencuci piring, membereskan rumah, menyapu mengepel sampai menyiapkan makanan dan memandikan anak-anak dipegang semua oleh suami. Ahh alhamdulillah weekend ini saya santai ;) Begitulah seharusnya rumah tangga berjalan menurut saya. Ketika suami dengan ikhlas membantu pekerjaan rumah, memanusiakan istri, menghormati privasi masing-masing dan masih banyak yang lainnya. Ketika istri mendapatkan perlakuan ikhlas suami, akan otomatis melakukan hal yang sama dengan ikhlas. Niat menyenangkan hati pasangan. Ada hubungan timbal-balik disana. Ada masanya ...

berkomunitas dalam homeschooling

ketika kami memilih homeschooling sebagai pendidikan untuk keluarga kami, sosialisasi menjadi momok bagi kami. Bagaimana bila anak-anak kehilangan lahan sosialisasi ketika sudah tidak kami sekolahkan disekolah formal. Bagaimana ibu bapaknya bisa tetap 'waras' ketika berkecimpung dengan segala naik turunnya ber-HS. Berkomunitaslah jawabannya.. Niatan untuk Homeschooling sudah tercetus jauh sebelum akhirnya keputusan HS diambil. Hanya saja, saat itu kami, saya tepatnya, belum berani dikarena merasa sendirian. Saya takut ketika saya mengalami sesuatu yang tidak sesuai ekspektasi saya, saya akan terpuruk sendirian. Itulah kemudian saya sendiri maju mundur untuk memulai HS dalam keluarga kami. Tapi kemudian, seakan dapat jawaban dari Alloh SWT. Saya mengenal mba Widya dan pak Bambang yang ternyata sudah menjadi praktisi HS bertahun-tahun, dan alhamdulillahnya mereka tinggal satu komplek dengan kami. Bahkan berselang 1 rumah saja dengan rumah kami. Dari sanalah saya kemudian sed...

Qeela Belajar Bersepeda Roda Dua

Sudah sejak lama ,kami, saya tepatnya, ingin mengajari Qeela (5 tahun) bersepeda roda dua. Selama ini, sebagai pertimbangan kami, Qeela sudah mahir mengendalikan sepeda roda empatnya. Ia tidak ketakutan atau panik ketika harus meluncur disebuah turunan dengan kecepatan tinggi. Ia juga dengan mudah saja bisa tetiba membanting stang (bukan setir) ke kiri ataupun ke kanan ketika ada kendaraan lain melaju didekatnya. Ia sudah seperti menyatu dengan sepedanya ketika bermain sepeda. Keinginan saya ini sudah pernah saya ajukan padanya. Saat itu ketika saya sedang hamil 7 bulan. Saya minta ia mencoba sebentar merasakan naik sepeda roda dua dengan melepaskan dua roda pembantunya. Alhamdulillahnya Qeela adalah anak yang mau mencoba hal-hal baru. Jadi kemudian ia menyetujuinya dan kamipun mulai berlatih di depan rumah.  Wajar saja ya, ketika itu saya belum tahu metode yang pas untuk mengajarkan anak bersepeda. Saya memilih melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan orang tua saya ...

Bunayya Shabia Huwaida

Gambar
Bunayya Shabia Huwaida. Gadis kecil mama, sudah 6 bulan 3 minggu di hari senin kemarin. Sudah 6 bulan sejak ia lahir, dan mama baru sadar belum ada 1 postingan pun yang berkisah khusus untukmu, dan postingan ini pun dibuat. Bunayya Shabia Huwaida. Betapa senangnya ayah ketika akhirnya bisa menggunakan nama 'Bunayya' untuk anaknya. Ia ingin rupanya merasakan kenikmatan ketika Rosululloh memanggil anaknya dengan sebutan tersebut. Sedang mama, sejak lama menginginkan seorang anak yang bisa di panggil 'Bia' yang kemudian menginisiasi penggunaan nama 'Shabia' untuk mu. Nama indah yang berarti perempuan. Dan 'Huwaida', sebagai pelengkap namamu, juga merupakan pelengkap doa kami. Tentu saja ingin anak kami ini kelak menjadi anak perempuan yang lemah lembut. baik sifatnya, tutur katanya , juga hatinya.. Bunayya Shabia Huwaida. Kamu hadiah dari Alloh SWT, nak. Ketika selama 2 tahun mama belum pernah meleset menentukan masa subur, tiba-tiba ...

Quickreview 2015, resolusi 2016, dan #OneDayOnePost - nya IIP

Assalamualaikum... Gak kerasa ternyata udah lama sekali ga ngeblog, tau-tau ngeblog sudah masuk di tahun yang baru ya. Tahun 2016, alhamdulillah masih dikasih umur aja sama Alloh SWT. Singkat cerita saja menilik ke belakang di tahun 2015, banyak hal terjadi di tahun lalu sebenarnya, namun ada beberapa kejadian besar di tahun lalu seperti saya nambah bayik dirumah dengan lahirnya Bunayya Shabia Huwaida, kepindahan kami ke Indramayu, dibentuknya  Komunitas Bestari . Menurut sebuah dalil, tidak akan datang suatu zaman kecuali zaman itu lebih buruk dari zaman sebelumnya. Maka dari itu, sudah seharusnya kita memperbaiki juga meningkatkan iman kita, akidah kita, akhlak kita, dan kemampuan kita untuk bisa melewati kerusakan akhir zaman di tahun ini kan ya.  Untuk itu, resolusi 2016, selain bebas riba, saya ingin belajar lebih banyak hal baru yang bermanfaat untuk saya dan orang sekitar saya.  Nah, baru deh itu nulis keinginan belajar, tetiba ada sebuah program dari IIP ...