Berproses..
Namanya juga hidup, berproses itu pastilah ya..
Masa mau segitu-segitu aja kualitasnya, masa mau itu-itu aja bisanya, begitu jugalah dengan saya.
Dulu mungkin saya belum terlalu pandai memaknai hidup, sekarangpun masih belum. Namun sudah lumayan lah bisa menggeser sedikit sudut pandang, sudah 27 tahun, jeh :p
Saya baru merasa benar-benar mengalami naik turun kehidupan ketika saya memutuskan menikah. Saya baru 20 tahun kala itu, jelang 21 sebenarnya. Bisa dibayangkan, saya sedang pada puncak keras kepala saya. Saya merasa bisa melakukan apapun, saya merasa sudah jadi orang 'dewasa', saya sudah punya titel baru (istri) dan lain sebagainya. Yang jelas saya merasa superior dibanding kawan-kawan saya. Namun kemudian memasuki biduk pernikahan bukanlah perihal mudah.
Untuk kemudian bisa mengalami ketenangan batin saat inilah, saya harus mengalami naik turun proses pendewasaan diri saya. Saya mengalami yang dialami pengantin baru kebanyakan. Sebagai contoh, masalah dengan mertua. Saya bertemu mertua saya hanya 2x sebelum menikah. Pertama ketika kenalan, kedua ketika dilamar. 2x pertemuan yang obrolan didominasi para ibu. Jadi kemudian ketika menikah, beliau baru tau kualitas saya sebagai istri (yang mana menyedihkan :( ) karena sempat kami bersama dalam satu rumah selama 3 bulan diawal menikah. Namanya ABG keras kepala, ketemu sama mertua yang punya harapan tinggi pada istri dari anak bungsu kesayangannya. Jadi kemudian terjadilah benturan-benturan hebat hingga yahh dalam taraf yang lumayan berat mengguncang biduk pernikahan kami :p. Sempat tersirat keinginan berpisah dari saya, namun kemudian saya hamil. Disanalah saya belajar, Alloh sedang mendidik saya. Usaha keras saya tidak mudah untuk kemudian kembali menyamankan hubungan saya dengan mertua. Butuh bertahun-tahun menghilangkan trauma berat saya. Namun alhamdulillah, ujian saya lewati, belajar menerima kenyataan, dan tidak malu akan hal ini. Itulah kenapa sekarang saya bisa bercerita tentang hal ini, karena saya akhirnya sukses melewati proses ini. Saya terima apa yang terjadi. Trauma saya memudar. Mertua saya? Alhamdulillah hubungan kami saat ini baiiiiiikkk sekali. Bukan hanya saya yang berproses, rupanya beliau juga. Berproses menerima menantu bandel seperti saya ini. Hihi.
Proses selanjutnya ialah menjadi istri sholeha. I'm still working on it actually. But still, nyaris 7 tahun pernikahan tentu ada proses yang kami lalui kan. Tidak seperti pasangan kebanyakan. Kami menikah tanpa proses pacaran, pengenalan lebih dalam dll. Dari obrolan singkat beberapa waktu, ia cocok, saya istikhoroh, ortu setuju, lalu menikahlah kami. Terbayanglah betapa banyak peer kami untuk membentuk komunikasi efektif demi berjalannya kesatuan dan keselarasan dalam bahtera pernikahan :p
Dari saya doyan ngempet sampai akhirnya seblak-blakan sekarang. Dari yang sama-sama jaim sampai tidak mirip suami istri saking seringnya usil-usilan. Dari yang nyaris tidak sejalan, hingga akhirnya sekarang kami merasa betapa miripnya kami. Alloh memang paling tahu jodoh terbaik kita.
Dulu saya masih beraaaat sekali menerima bahwa suami tidak mengizinkan saya bekerja, walau dengan alasan syar'i sekalipun. Saya merasa ketika saya tidak bekerja, saya akan diremehkan oleh suami ataupun keluarganya. Namun kemudian saya belajar, untuk lebih ridho, legowo, menerima. Ketika saya terima hal itu, luapan-luapan hikmah saya dapatkan kemudian. Tidak bekerja, dropout dr kampus (kalau ini murni keputusan saya), memutuskan homeschooling untuk anak-anak, saya malah merasa sama sekali tidak terkekang. Saya diberi kebebasan untuk belajar dan menaikkan kualitas diri. Sungguh, ketika saya takut terkekang dengan status saya sebagai ibu rumah tangga, Alloh malah menunjukkan sebaliknya. Mungkin ya, apabila saya bekerja kantoran, saya malah semakin terkekang. Terbatas pada waktu, pada kerjaan, pada checklist capaian dan sebagainya. Lagipula ternyata setelah mencoba mengenal diri, saya bukan tipe yang bisa bekerja dibawah tekanan. Bila ikut wawancara kerja, saya akan di blacklist seketika karena merupakan tipe pekerja santai :D
Proses saya yang terbaru, ialah menjadi seorang ibu dan fasilitator yang baik bagi anak-anak homeschooler kami. Kami masih belajar, masih sangat awam. Namun saya positif insya Alloh kami bisa melalui proses kali ini melihat semangat dari saya dan suami serta lingkungan yang sangat mendukung. Oh ya, sebagai tambahan, saya juga sedang berproses menemukan dan mencapai apa yang menjadi minat dan bakat saya. So far merasa minat saya kuat didunia pendidikan dan anak-anak. Doakan ada yang bisa saya capai didunia baru ini ya..
Bismillah
#OneDayOnePost
#ODOPfor99days
#day21
Komentar