kehidupan IRT, untuk saya..
Curcol dikit ah pagi2..
Beberapa waktu lalu ya, seorang kawan yang bekerja, curhat ceritanya..
Si dia ini ditertawakan kawan-kawannya karena punya pemikiran IRT-minded..
Jadi kawan saya ini, masih muda, diterima di Bank Negara, tapi udah ngebet sekali menikah dan jadi IRT, namun bukan dukungan dari kawan-kawan perempuannya, si dia malah di cela abis-abisan. Dianggap tidak syukur kalo sampai keluar hanya karena jadi IRT, istilahnya menyia-nyiakan kesempatan.
Si kawanpun curcol dengan saya, berhubung saya -sepertinya- kawan yang menurut dia dianggap sukses ber IRT ria, jadilah muncul pertanyaan-pertanyaan darinya. 'Semengerikan apakah kehidupan IRT?', 'Worthed kah?'
Saat itu saya jelas ga manas-manasin dia ya. Saya bilang setiap orang punya prioritas dan cara pandang sendiri-sendiri. Menurut saya, mungkin karena si kawan ini dibesarkan di keluarga yang hangat, dengan ibu yang bekerja dirumah, wajar saja kalo dia pun bercita-cita menjadi ibu rumah tangga sukses seperti ibunya. Jadi tanggapan saya, mungkin saja teman-temannya memang dari awal sudah terdoktrin untuk menjadi seorang wanita karier. Toh si kawan ini saya infokan kalopun bekerja tidak lantas lepas tanggung jawab jadi istri dan ibu. Etapi sungguh kawan saya ini, cita-citanya sederhana tapi mulia. Ingin dirumah, mendidik anak-anak, buka warung kelontong, sambil menanti suami pulang kerja. Sekarang tinggal keputusannya sendiri, sambil menanti lamaran dari kekasih :p.
Trus kemudian saya jadi mikir sendiri, hmm..kira-kira apa yang harus saya syukuri sebagai seorang IRT. Sama sekali ya, tulisan ini ga ada hubungannya dengan membanding-bandingkan status IRT ataupun wanita karier. Ini murni dari pengalaman saya sendiri. Toh hitung-hitung ngelist karunia Alloh untuk saya.
Anak saya 2, balita semua, dan segera jadi 3 insya Alloh. Apa yang membahagiakan setiap paginya, saya bisa guling-gulingan disekitar mereka, sambil menanti mereka bangun selepas ayahnya berangkat kantor. Lalu sesaat setelah mereka bangun, saya bakal dapat desakan desakan tangan mungil hangat minta dipeluk..kemudian mulailah si sulung bercerita, mimpi apa dia semalam (kalau masih ingat), dan si adek menimpali dengan kisah mimpi dia (walau jelas rasanya belum paham apa itu mimpi, hanya mau mengimbangi si kakak). Jika pas harinya bersekolah, saya musti siap dengan segala jurus rayuan, kisah-kisah indah di sekolah, untuk membuai si sulung semangat bersekolah.
Waktu memandikan mereka juga jadi saat menyenangkan buat saya, main air bersama, gosok gigi bersama, kemudian ditutup gendong2 mereka ke kamar untuk ganti baju. Kejar-kejaran dengan si bungsu untuk dipakaikan baju jadi olahraga saya setiap paginya, bersamaan dengan gotong mereka dari kamar mandi ke kamar.
Setiap hari, selalu ditanya si sulung, 'hari ini kita jalan-jalan kemana, mama?'.
Kemudian pagi kami dilalui dijalan, walau kadang hanya kepasar, atau memberi makan rusa. Kalau rutenya agak jauhan, si ayah sudah biasa ditinggal makan siang sendiri :P
Tiap siang, tiap hari, cobaan buat mama untuk nidurin 2 balita ini tanpa mengganggu satu sama lain. Susahnya karena harus membarengi waktu tidur antara mereka berdua. Tapi jadi kisah seru setiap harinya yang selalu di setor untuk ayah setiap malam.
Sore hari, ayah pulang, jatah bermain di serahkan pada ayah. Mamak cuma bagian memandang dari kejauhan sambil duduk diteras, ngemil sesuatu.
Kami berempat tipe keluarga yang senang menghabiskan waktu di kamar tidur. Kamar jadi pusat segala kegiatan kami. Pojok hangat kami. Sambil bergulingan bersama, main gulat-gulatan, kuda-kudaan, atau hanya berkisah satu sama lain.
Untuk saya, kehidupan IRT saya sangaatt memuaskan. Alhamdulillah nikmat Alloh yang tidak terbantahkan.
Bersyukurlah ketika bisa makan hari ini dan esok, ketika bisa dengan mudah beribadah, ketika bisa dengan lancar shodaqoh dan infaq. Selebihnya, itu urusan Alloh atas pekerjaanmu, rejekimu, kehidupanmu..
Selamat pagi di awal Februari ^______^
Komentar