"Hidupku tak semudah itu"
"enak ya, suaminya mau ngurusin anak-anak"
"Aku kalo jadi dirimu mah enak, anaknya anteng semua"
"Cuma mba Tika yang bisa, pembantu pulang sebelum dhuhur, dan anak-anak terkondisikan"
"Andai suamiku mau ikutan kelas parenting begitu"
Masya Alloh, alhamdulillah kalo dikira hidup ay senang-senang terus. Tapi tenang kawan, biar dirimu ayem, sini ay bisikin. "Hidupku tak semudah itu".
Tidak ada satupun yang instan, semua berproses, dan itulah yang menentukan tingkatan kita di mata Alloh. Saya pernah (dan kadang masih) ngambek-ngambekkan dengan suami karena komunikasi yang menemukan jalan buntu, menangis karena merasa bersalah selepas menyakiti anak-anak, mengeluh pada suami karena merasa lelah membersamai mereka, sakit kepala karena menahan marah melihat polah anak, dsb. Cuma apa gunanya ay jelaskan diluar rumah kan ya.
Kami memulai semuanya dari ketidaktahuan. Tidak tahu bagaimana seharusnya menjadi seorang istri, suami, dan juga orangtua. Apa yang terjadi? Kami akhirnya tidak menjalankan fungsi masing-masing di keluarga dengan baik. Seringlah kemudian muncul stres, cekcok dengan suami, marah-marah ke anak dan lain sebagainya. Saya sempat merasa tidak nyaman dengan kondisi ini. Rasanya ingin lepas. Sesak.
Eits, tapi alhamdulillah, seburuk-buruknya bayangan saya, tidak ada bayangan pisah dengan suami. Saya yakin 100% bahwa Alloh beri dia sebagai suami saya adalah untuk memudahkan saya mendatangi surga-Nya. Indeed.
Cukup iklannya, balik ke cerita, didorong rasa sesak kesel gemes dengan pola kehidupan yang bikin stres, saya putuskan untuk melakukan sesuatu. Alhamdulillahnya komunitas-komunitas yang saya ikuti selama ini, yang awalnya hanya untuk pelampiasan kebutuhan me time saya, malah memberi banyak inspirasi-inspirasi :P perbaikan bagi kami.
Pertama yang saya lakukan ialah mengindentifikasikan apa yang menjadi akar dari semua permasalahan yang muncul dalam rumah tangga kami, akar ketidaknyamanan saya dalam menjalankan pernikahan ini. Jawabannya, KOMUNIKASI :D
Penuh perjuangan jatuh bangun disertai air mata dan darah sebelum akhirnya kami memiliki pola komunikasi yang jauh jauh jauh lebih baik seperti sekarang ini (masih banyak pe ernya sist). Baik saya dan pak suami berusaha untuk menghapuskan jarak komunikasi diantara kami agar betul-betul dapat terjadi 2 arah tanpa aral..eaa..
(Saya sempat terharu karena diam-diam paksu memesan dan membaca buku legendaris 'men are from mars, women are from venus' demi memperkokoh komunikasi diantara kami. hihihi.)
Kedua, sambil jalan dengan 'memperbaiki komunikasi' kami mulai juga membangun lagi visi misi keluarga serta value didalamnya. Ini kudu melewati banyak sekali obrolan, referensi, dan juga pengamatan. Saya mulai menjelaskan pada suami bagaimana kondisi saya. Apa yang menjadi kebutuhan saya, keinginan saya, harapan saya. Begitu juga dengan suami. Kami saling membuka diri, menjelaskan kelebihan serta kelemahan masing-masing. Untuk apa? untuk memudahkan pembagian tanggungjawab serta tugas dalam keluarga tentu saja.
Dari sana, banyak kemajuan yang kami dapatkan dalam hubungan baik antara suami istri maupun orangtua ke anak. Memahami kebutuhan saya, suami mengijinkan saya mengikuti kegiatan-kegiatan yang memang manfaat dan memberi dampak positif bagi saya dan keluarga.
Kami paham bahwa seharusnya keluarga diletakkan diatas segala-galanya. Value ini kami dapatkan setelah banyak mengobrol dan berbagi ide satu sama lain. Hal ini tidak selalu berlaku bagi keluarga lain, karena setiap keluarga pasti memiliki prioritas masing-masing.
Bergerak dari value inilah yang kemudian outputnya seperti orang lain liat. Ketika saya meletakkan keluarga diatas segalanya, dan memang sesuai keinginan saya, maka hal-hal yang mengganggu keseimbangan dalam berjalannya keluarga akan saya indahkan.
Program memperbaiki komunikasi tidak hanya saya lakukan dengan suami, namun juga dengan anak-anak. Ilmu-ilmu terkait tentu saja digunakan. Letakkan EGO. Pun posisi kita sebagai orangtua, namun tidak ada sekolah orangtua. Maka menilai keberhasilan kita ialah dengan memperhatikan output anak-anak. Ketika ada yang (kita anggap) salah dengan mereka, berarti ada yang salah pula dengan cara kita. Jangan malu mengaku salah, jangan ragu mengaku fakir ilmu, dan jangan takut meminta pendapat mereka. Insya Alloh, ketika kita sungguh-sungguh maka usaha kita akan menghasilkan.
Intinya mah, banyak yang harus saya dan suami lalui untuk kemudian bisa menikmati posisi kami sekarang. Bergerak dan bergerak. Jangan mau pasrah dengan kondisi kita yang ternyata merasa kesulitan. Mendidik anak dan berumahtangga seharusnya menjadi sebuah hal yang menyenangkan. Bukan menyulitkan apalagi membuat putus asa. Maka kemudian bergerak mencari solusi ialah jalan satu-satunya. Saya belum usai teman. Pernikahan kami maju terus. Begitu juga dengan peran sebagai orangtua. Saya yakin didepan sana menanti banyak tantangan. Namun saya yakin dan optimis selama dasarnya sudah kuat, insya Alloh kami bisa melewatinya. Saya bisa, oranglain tentu bisa ^^
"Aku kalo jadi dirimu mah enak, anaknya anteng semua"
"Cuma mba Tika yang bisa, pembantu pulang sebelum dhuhur, dan anak-anak terkondisikan"
"Andai suamiku mau ikutan kelas parenting begitu"
Masya Alloh, alhamdulillah kalo dikira hidup ay senang-senang terus. Tapi tenang kawan, biar dirimu ayem, sini ay bisikin. "Hidupku tak semudah itu".
Tidak ada satupun yang instan, semua berproses, dan itulah yang menentukan tingkatan kita di mata Alloh. Saya pernah (dan kadang masih) ngambek-ngambekkan dengan suami karena komunikasi yang menemukan jalan buntu, menangis karena merasa bersalah selepas menyakiti anak-anak, mengeluh pada suami karena merasa lelah membersamai mereka, sakit kepala karena menahan marah melihat polah anak, dsb. Cuma apa gunanya ay jelaskan diluar rumah kan ya.
Kami memulai semuanya dari ketidaktahuan. Tidak tahu bagaimana seharusnya menjadi seorang istri, suami, dan juga orangtua. Apa yang terjadi? Kami akhirnya tidak menjalankan fungsi masing-masing di keluarga dengan baik. Seringlah kemudian muncul stres, cekcok dengan suami, marah-marah ke anak dan lain sebagainya. Saya sempat merasa tidak nyaman dengan kondisi ini. Rasanya ingin lepas. Sesak.
Eits, tapi alhamdulillah, seburuk-buruknya bayangan saya, tidak ada bayangan pisah dengan suami. Saya yakin 100% bahwa Alloh beri dia sebagai suami saya adalah untuk memudahkan saya mendatangi surga-Nya. Indeed.
Cukup iklannya, balik ke cerita, didorong rasa sesak kesel gemes dengan pola kehidupan yang bikin stres, saya putuskan untuk melakukan sesuatu. Alhamdulillahnya komunitas-komunitas yang saya ikuti selama ini, yang awalnya hanya untuk pelampiasan kebutuhan me time saya, malah memberi banyak inspirasi-inspirasi :P perbaikan bagi kami.
Pertama yang saya lakukan ialah mengindentifikasikan apa yang menjadi akar dari semua permasalahan yang muncul dalam rumah tangga kami, akar ketidaknyamanan saya dalam menjalankan pernikahan ini. Jawabannya, KOMUNIKASI :D
Penuh perjuangan jatuh bangun disertai air mata dan darah sebelum akhirnya kami memiliki pola komunikasi yang jauh jauh jauh lebih baik seperti sekarang ini (masih banyak pe ernya sist). Baik saya dan pak suami berusaha untuk menghapuskan jarak komunikasi diantara kami agar betul-betul dapat terjadi 2 arah tanpa aral..eaa..
(Saya sempat terharu karena diam-diam paksu memesan dan membaca buku legendaris 'men are from mars, women are from venus' demi memperkokoh komunikasi diantara kami. hihihi.)
Kedua, sambil jalan dengan 'memperbaiki komunikasi' kami mulai juga membangun lagi visi misi keluarga serta value didalamnya. Ini kudu melewati banyak sekali obrolan, referensi, dan juga pengamatan. Saya mulai menjelaskan pada suami bagaimana kondisi saya. Apa yang menjadi kebutuhan saya, keinginan saya, harapan saya. Begitu juga dengan suami. Kami saling membuka diri, menjelaskan kelebihan serta kelemahan masing-masing. Untuk apa? untuk memudahkan pembagian tanggungjawab serta tugas dalam keluarga tentu saja.
Dari sana, banyak kemajuan yang kami dapatkan dalam hubungan baik antara suami istri maupun orangtua ke anak. Memahami kebutuhan saya, suami mengijinkan saya mengikuti kegiatan-kegiatan yang memang manfaat dan memberi dampak positif bagi saya dan keluarga.
Kami paham bahwa seharusnya keluarga diletakkan diatas segala-galanya. Value ini kami dapatkan setelah banyak mengobrol dan berbagi ide satu sama lain. Hal ini tidak selalu berlaku bagi keluarga lain, karena setiap keluarga pasti memiliki prioritas masing-masing.
Bergerak dari value inilah yang kemudian outputnya seperti orang lain liat. Ketika saya meletakkan keluarga diatas segalanya, dan memang sesuai keinginan saya, maka hal-hal yang mengganggu keseimbangan dalam berjalannya keluarga akan saya indahkan.
Program memperbaiki komunikasi tidak hanya saya lakukan dengan suami, namun juga dengan anak-anak. Ilmu-ilmu terkait tentu saja digunakan. Letakkan EGO. Pun posisi kita sebagai orangtua, namun tidak ada sekolah orangtua. Maka menilai keberhasilan kita ialah dengan memperhatikan output anak-anak. Ketika ada yang (kita anggap) salah dengan mereka, berarti ada yang salah pula dengan cara kita. Jangan malu mengaku salah, jangan ragu mengaku fakir ilmu, dan jangan takut meminta pendapat mereka. Insya Alloh, ketika kita sungguh-sungguh maka usaha kita akan menghasilkan.
Intinya mah, banyak yang harus saya dan suami lalui untuk kemudian bisa menikmati posisi kami sekarang. Bergerak dan bergerak. Jangan mau pasrah dengan kondisi kita yang ternyata merasa kesulitan. Mendidik anak dan berumahtangga seharusnya menjadi sebuah hal yang menyenangkan. Bukan menyulitkan apalagi membuat putus asa. Maka kemudian bergerak mencari solusi ialah jalan satu-satunya. Saya belum usai teman. Pernikahan kami maju terus. Begitu juga dengan peran sebagai orangtua. Saya yakin didepan sana menanti banyak tantangan. Namun saya yakin dan optimis selama dasarnya sudah kuat, insya Alloh kami bisa melewatinya. Saya bisa, oranglain tentu bisa ^^
Komentar