Anya dan ketiadaan Qeela


Setelah kemarin dengan OHAYO, kali ini dengan sebuah kursusan bahasa Inggris. 



Emak nampaknya ngajakin anak-anak trial mulu ya? hee..lebih kepada kami merasa Qeela dan Anya sudah seharusnya mulai dipisahkan satu sama lain. Anya belajar tanpa Qeela dan begitu pula sebaliknya. 

Anak HS seperti Qeela dan Anya, dengan umur yang nyaris sama dan kegiatan yang serupa, jelas membuat mereka bagai tak terpisahkan. Positifnya, mereka jarang kesepian. Negatifnya, mereka terlalu tergantung satu dengan yang lainnya. Yang paling terdampak ialah Anya. Ia sebenarnya memiliki kepribadian yang cukup mengagumkan. Sayangnya ketika diluar rumah, kharismanya tertutupi oleh kepribadian bersinar Qeela. Anya nampak seperti pengikut Qeela dan jarang memutuskan sesuatu sendiri.

Balik ke cerita awal. Itulah kemudian kami memutuskan memisahkan mereka melalui kegiatan yang berbeda. Anya kami trialkan sebuah tempat belajar Bahasa Inggris dengan hari trial dan level yang berbeda dengan Qeela. Saya ingin melihat ketika Anya sendiri  tanpa Qeela ketika berada dikelas.

Anya diberikan kesempatan untuk trial dikelas selama 1 jam. Awal ketika masuk, ia semangat. Kelas hanya terdiri dari 5 anak selain Anya. Bu Gurunya pun nampak ramah. Selang beberapa saat ketika masuk, tetiba Anya menangis keras. Ia minta keluar kelas menemui saya. Saya lihat, dan nampaknya paham masalahnya. Kelas sebenarnya cukup menyenangkan menurut saya. Ruangannya nyaris tempus pandang karena berisi kaca full setembok. Saya bisa menatap Anya langsung dari luar kelas.

Saat diluar, saya peluk ia. Menenangkannya sembari mengajaknya bicara. Ia takut. Ia bingung. Ia tidak  paham apa yang gurunya bicarakan. Ia merasa sendirian. Alhamdulillahnya teman sekelas kala itu sungguh menyenangkan. Mereka bolak balik keluar, sekedar mengintip bahkan kembali mengajak Anya masuk kelas. Berkali-kali hingga Anya akhirnya mau. Saya agak menyayangkan sikap bu Guru yang cenderung cuek kala itu. Ntah karena terlalu fokus pada mengajar, ataukah karena Anya hanya murid trial. 

Akhirnya Anya mau masuk kembali setelah diajak seorang kawan. Ia kembali nampak tertawa, mulai berkenalan dengan mereka sembari sesekali menoleh mencari saya untuk kembali tenang bermain. 

Beberapa saat kemudian, ia kembali menangis. Mencari-cari saya dan mencoba bicara lewat matanya. Menurut tebakan saya, ia kembali menangis ketika bu Guru lagi-lagi mengajaknya berbicara bahasa Inggris. Dan kemudian menunggu ia menjawab, inilah yang menurut saya sumber tangisnya. Ia berasa dipojokkan. Kembali ia kemudian keluar kelas. Mencari pelukan saya.

Diluar kelas, saya berusaha mendengarkan tangisannya. Tanpa berkomentar ataupun berkata-kata. Ia hanya butuh pelukan saya. Pelukan yang menurutnya adalah sumber kekuatannya. Ketika mulai tenang, saya tanyakan kenapa. Ia bingung. Ia menangis sambil meminta Qeela untuk menemaninya masuk. Ia ingin bersama Qeela. Tidak mau sendirian. 

Ah nak. Maafkan emak ya. Emak tau ini mungkin tidak mudah bagimu. Kalian nyaris tidak terpisahkan sejak lahir. Dan disana, didalam kelas, kamu tak hanya menghadapi hal baru yang tak kamu pahami, namun juga menghadapi pencarian jati dirimu. Pencarian akan dirimu yang tanpa Qeela. Berat ya nak, tapi mau tidak mau, Cepat atau lambat, kalian akan memiliki minat yang berbeda satu sama lain kelak. Anya harus bisa berdiri sendiri, mencari dirimu sendiri. 

Saya hanya bisa mengingatkannya, bahwa ini kelas Anya. Qeela akan melalui kelas yang berbeda dengan Anya. Maka saya tidak bisa memaksa Qeela masuk kesana. 
Alhamdulillah, seperti menjawab doa saya. Alloh mengirimkan ibu Guru yang ntah bagaimana kemudian peka. Ia keluar. Berbicara baik-baik dengan Anya. Berjanji akan lebih pelan dengan Anya. Mau menggunakan bahasa Indonesia ketika bicara dengan Anya. Bu guru juga menawari bermain game bersama Anya. Syukur, Anya tertarik. Butuh pedekatan yang lebih ketika mengajak Anya ke tempat asing. Ia memang tidak mudah diawal, namun sangat fleksibel pada akhirnya.

Saya melihat bu Guru mulai mengajak Anya berinteraksi langsung. Mengulang kata2 bahasa Inggrisnya kedalam bahasa Indonesia sesekali. Agar Anya tak merasa terlalu asing berada disana. Anya pelan namun pasti mulai bisa mengikuti ritme kelas. Ia mulai tertawa. Mulai berani mengangkat tangan dan bicara. Yang jelas, ia mulai berinteraksi lebih banyak dengan kondisi kelas.

Di akhir trial tadi. Ia tersenyum. Nampak puas bisa mengalahkan ketakutannya sendiri. Ia kemudian menyanggupi meneruskan belajar disana.
Semoga ada pelajaran yang bisa dipetik ya nak. Asal kau tau. Selalu ada kami yang menatapmu dengan bangga dibelakangmu. Yang selalu siap dengan pelukan dan kehangatan tanpa syarat ketika kau lelah ataupun merasa butuh suntikan semangat. Kami disini sekarang, dan insya Alloh selamanya..





#harike2
#tantangan10hari
#gamelevel4
#gayabelajaranak
#kuliahbunsayIIP

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meruntuhkan Label : Tidak Cinta Diri

berdamai dengan keadaan..

menyambut Baby T