trial di OHAYO Drawing School Cirebon
Bismillah
Sebenarnya, sudah cukup lama saya memperhatikan bahwa anak-anak memiliki ketertarikan lebih kepada dunia gambar-menggambar juga mewarnai. Hari-hari mereka diisi dengan menggambar atau merwarnai. Tumpukan kertas dirumah kami, dari kertas bekas hingga berbelas buku gambar yang menumpuk dipojokan ialah karya mereka. Iya, mereka menyukainya, sayangnya emak bapaknya sama sekali tidak nyeni.
Dan setelah obrolan panjang antar saya dan suami, kami dan anak-anak. Kemudian tercetuslah mencoba mencari sumber belajar lain. Sayangnya sungguh tidak mudah mencari tempat belajar yang sesuai dengan kami. Kami -saya terutama- tidak terlalu setuju bila cara menggambar atau mewarnai diajarkan menggunakan pakem tertentu. Mewarnai harus begini, menggambar harus begitu dsb yang bukannya meningkatkan malah sebaliknya membatasi kreatifitas anak.
Maka kemudian pencarian banyak menemukan jalan buntu. Sempat mencari klub gambar yang hanya menjadi media berkenalan dengan teman-teman baru satu hobi, namun lagi-lagi kesulitan. Setelah berbulan-bulan kemudian, seorang kawan mencolek saya. Menyebut salah satu tempat belajar gambar baru di Cirebon. Dari info, tempat tersebut juga menyediakan trial. Baiklah, mari mencobaa!
OHAYO Drawing School Cirebon terletak di Jl Kesambi, tepatnya di depan RS Gunung Djati Cirebon. Sekolah gambarnya sendiri terletak di lantai 2 ruko yang berada satu gedung dengan sebuah perusahaan arsitektur. Pertama datang tadi, disambut langsung oleh mba-mba Admin dan miss pengajar. Pas banget saat datang, kelas sepi, sehingga kami bisa langsung trial.
Kesan pertama? Anak-anak suka. Sungguh, karena HS, anak-anak hampir jarang memiliki guru selain dengan saya. Seingat saya, yang benar-benar mendapat gelar guru bagi mereka ialah miss Yeni, guru renangnya. Maka tidak heran, awalnya nampak ketegangan diraut wajah Qeela.
Saya perhatikan, Qeela ini anaknya easy going, mudah berbaur, namun, ntah kenapa tidak terlalu suka kondisi dimana ia harus menjadi murid dan ada pihak lain yang menjadi guru. Saat trial tadi, ketika Miss pengajar meminta ia menggambar sesuatu dengan tema, tiba-tiba ia menolak, lantas menangis. Ia menatap saya sambil menggeleng. Tatapannya bagai memohon agar saya menjelaskan pada Miss untuk tidak memaksanya. Padahal, sepemahaman saya, dan sependengaran saya, tidak ada kesan memaksa dari kata-kata miss tersebut.
Oh nak, kenapa dirimu.
Saya sempat memberi kode pada Miss untuk tidak memaksanya, meminta waktu untuk bicara berdua dengan Qeela. Masih sambil mengalirkan air mata, Ia bilang tidak mau menggambar lagi. Saya takut, sungguh takut bahwa Qeela akan merasa dipaksa. Saya takut salah bicara yang dapat menyakitinya yang malah merusak fitrahnya. Ia terlalu mencintai menggambar, jangan sampai saya mematahkan semangatnya.
Baiklah..
"Qeela ga mau gambar?"
"Ga mau yang disuruh missnya"
"OK, ga ada yang maksa. Miss ga tau kalo Qeela ga mau. Daripada bilang sama Mama, kenapa ga Qeela bilang sendiri sama Miss. Ayo ga apa, bilang saja. Miss insya Alloh ngerti. Mama liat Miss ga maksa koq. Tadi cuma ngajak Qeela"
Bicaralah Ia dengan Miss. Dan sesuai perkiraan, Miss mengerti dan mengajak Qeela menggambar hal lain yang disuka. Alhamdulillah, senyum itu muncul kembali.
Hari ini, kami sungguh nampak maruk. Segala yang ada disana kami coba. Kelas gambar, Kelas melukis, kelas mewarnai, hingga kelas calistung. Sekarang, tinggal menanti pilihan mereka. Saya berjanji sebelumnya, tidak akan ada paksaan dari saya ataupun ayahnya untuk Qeela dan Anya memilih. Mencoba, atau tidak mencoba sama sekali. Mewarnai. menggambar, melukis, atau bahkan calistung, itu semua jadi sepenuhnya keputusan mereka.
Saat pulang tadi, saya mengajak anak-anak mengingat dan mengambil hikmah dari pelajaran hari ini. Mereka senang. Satu poin plus tentang OHAYO sudah saya pegang. Kelas nyaman menjadi nilai plus lainnya.
Diakhir hari, mereka berbisik..
"Mama, Qeela mau coba melukis ya"
"kalo Anya mau mewarnaiiiii"
SIAPP NAKK!!!
#harike1
#tantangan10hari
#gamelevel4
#gayabelajaranak
#kuliahbundsayIIP
Kesan pertama? Anak-anak suka. Sungguh, karena HS, anak-anak hampir jarang memiliki guru selain dengan saya. Seingat saya, yang benar-benar mendapat gelar guru bagi mereka ialah miss Yeni, guru renangnya. Maka tidak heran, awalnya nampak ketegangan diraut wajah Qeela.
Saya perhatikan, Qeela ini anaknya easy going, mudah berbaur, namun, ntah kenapa tidak terlalu suka kondisi dimana ia harus menjadi murid dan ada pihak lain yang menjadi guru. Saat trial tadi, ketika Miss pengajar meminta ia menggambar sesuatu dengan tema, tiba-tiba ia menolak, lantas menangis. Ia menatap saya sambil menggeleng. Tatapannya bagai memohon agar saya menjelaskan pada Miss untuk tidak memaksanya. Padahal, sepemahaman saya, dan sependengaran saya, tidak ada kesan memaksa dari kata-kata miss tersebut.
Oh nak, kenapa dirimu.
Saya sempat memberi kode pada Miss untuk tidak memaksanya, meminta waktu untuk bicara berdua dengan Qeela. Masih sambil mengalirkan air mata, Ia bilang tidak mau menggambar lagi. Saya takut, sungguh takut bahwa Qeela akan merasa dipaksa. Saya takut salah bicara yang dapat menyakitinya yang malah merusak fitrahnya. Ia terlalu mencintai menggambar, jangan sampai saya mematahkan semangatnya.
Baiklah..
"Qeela ga mau gambar?"
"Ga mau yang disuruh missnya"
"OK, ga ada yang maksa. Miss ga tau kalo Qeela ga mau. Daripada bilang sama Mama, kenapa ga Qeela bilang sendiri sama Miss. Ayo ga apa, bilang saja. Miss insya Alloh ngerti. Mama liat Miss ga maksa koq. Tadi cuma ngajak Qeela"
Bicaralah Ia dengan Miss. Dan sesuai perkiraan, Miss mengerti dan mengajak Qeela menggambar hal lain yang disuka. Alhamdulillah, senyum itu muncul kembali.
Hari ini, kami sungguh nampak maruk. Segala yang ada disana kami coba. Kelas gambar, Kelas melukis, kelas mewarnai, hingga kelas calistung. Sekarang, tinggal menanti pilihan mereka. Saya berjanji sebelumnya, tidak akan ada paksaan dari saya ataupun ayahnya untuk Qeela dan Anya memilih. Mencoba, atau tidak mencoba sama sekali. Mewarnai. menggambar, melukis, atau bahkan calistung, itu semua jadi sepenuhnya keputusan mereka.
Saat pulang tadi, saya mengajak anak-anak mengingat dan mengambil hikmah dari pelajaran hari ini. Mereka senang. Satu poin plus tentang OHAYO sudah saya pegang. Kelas nyaman menjadi nilai plus lainnya.
Diakhir hari, mereka berbisik..
"Mama, Qeela mau coba melukis ya"
"kalo Anya mau mewarnaiiiii"
SIAPP NAKK!!!
#harike1
#tantangan10hari
#gamelevel4
#gayabelajaranak
#kuliahbundsayIIP

Komentar