Postingan

School for HS facilitator

Sejak pulang dari kunjungan belajar di Salatiga, saya dan paksuami makin merasa butuh belajar sesegera mungkin sebagai fasilitator anak-anak homeschool inih. Secara yah, kami merasa miskin ilmu sekali baik dalam dunia keilmuan umum maupun pendidikan anak. Ntah bagaimana nanti mereka memilih mendapat ilmu dengan atau tanpa pendampingan kami, kami merasa butuh belajar sebanyak-banyaknya dahulu. Angin segar ketika selang seminggu sepulang dari Salatiga, saya diinfokan seorang teman bahwa pak Dodik dan bu Septi akan mengadakan event bertajuk ' School for Homeschool Fa cilitator '. Itulah mengapa saya butuh FB saya aktif, karena info-info begini dibagikan di laman FB penyelenggara. Sempat maju mundur cantik untuk mendaftar berkaitan dengan keterbatasan dana akibat sebelumnya baru mendaftar Perak 2016. Dan, kebobrokan pengaturan uang kami juga turut andil kegalauan mamak untuk mendaftar. Tapi karena merasa memang butuh, mendaftarlah suami tanpa diganduli anak istri. Acara ini d...

Berproses..

Namanya juga hidup, berproses itu pastilah ya.. Masa mau segitu-segitu aja kualitasnya, masa mau itu-itu aja bisanya, begitu jugalah dengan saya. Dulu mungkin saya belum terlalu pandai memaknai hidup, sekarangpun masih  belum. Namun sudah lumayan lah bisa menggeser sedikit sudut pandang, sudah 27 tahun, jeh :p Saya baru merasa benar-benar mengalami naik turun kehidupan ketika saya memutuskan menikah. Saya baru 20 tahun kala itu, jelang 21 sebenarnya. Bisa dibayangkan, saya sedang pada puncak keras kepala saya. Saya merasa bisa melakukan apapun, saya merasa sudah jadi orang 'dewasa', saya sudah punya titel baru (istri) dan lain sebagainya. Yang jelas saya merasa superior dibanding kawan-kawan saya. Namun kemudian memasuki biduk pernikahan bukanlah perihal mudah. Untuk kemudian bisa mengalami ketenangan batin saat inilah, saya harus mengalami naik turun proses pendewasaan diri saya. Saya mengalami yang dialami pengantin baru kebanyakan. Sebagai contoh, masalah deng...

Ternyta masih butuh..

Hihi..ini semacam postingan galau yakk.. Jadi, beberapa waktu yang lalu saya mohon ijin keluar dari dunia per FB an. Maksud hati supaya tidak kebanyakan godaan (dari timeline) yang negatif. Namun, ternyata, saya akhirnya mengaktifkan kembali FB saya, karena godaan positif. Hehe. Saya nyaris ketinggalan 2 event penting seputar HS yang di share di FB. Eh masih 1 event dink yang nyaris. 1 event lagi masih menanti kejelasan bisa ikut atau tidak. Dari situ lah kemudian bapak suami bilang, 'aktifkan lagi FB adek, FB mas aja yang deaktif'. Jadilah, demi tidak ketinggalan info penting, saya aktifkan kembali. Bedanya, kali ini saya harus lebih jeli. Jeli untuk memanfaatkan FB sebatas untuk kepentingan anak-anak saja. Seperti halnya segala sesuatu ya, yang pasti ada sisi positif dan negatifnya. Manfaatkan yang ada untuk kepentingan positif saja, negatifnya di abaikan. So, ketemu lagi kita di FB..hihi NB: untuk event diatas, saya share nanti yaaa dipost-post selanjutnya :D #ODOPfor9...

Rasa benci..

Bagi orang yang jati dirinya dipengaruhi oleh eksternalnya, perasaannya akan dengan mudah terbentuk bergantung pada keadaan sekitarnya. Kemudian saya jadi sadar. Rasa benci pun begitu. Ia muncul dan pergi tergantung bagaimana orang sekitar membentuk diri saya. Ketika mereka mengkomentari negatif sesuatu yang saya lakukan, saya kemudian jadi enggan atau bahkan benci melakukan hal yang sama kemudian. Terlepas dari positif atau negatif kegiatan tersebut. Saya terlalu memikirkan reaksi orang-orang sekitar saya, dan ini bukan hal yang dengan mudah saya hindari.  Hari ini, setelah menyadarinya, saya kembali mengulik trauma saya, mengulik phobia saya, rasa benci saya. Adakah saya lakukan karena dipengaruhi orang lain ataukah murni dari diri saya sendiri.. Seperti halnya hari ini saya jadi membenci memasak dan segala yang berkaitan dengan dapur karena reaksi pihak luar. Mempelajari diri sendiri, saya jadi mempelajari sekitar saya juga. Bahwa setiap orang tidaklah bisa diperlakuk...

Bebas Facebook?

Saat tulisan ini dibuat..saya (sepertinya) sudah seminggu bebas Facebook. Haha penting banget ya tulisan. Soalnya urusan lepas FB ini agak berat bagi saya pribadi. Kenapa? Karena saya menganggap FB sebagai ladang ilmu. Disana lah tempat berjejaring dengan para 'guru' di hidup saya. Banyak tulisan-tulisan yang sungguh menginspirasi.  Namun terlepas dari manfaat FB itulah, saya mendapatkan banyak juga sisi negatif dari FB. Ketika membaca status-status negatif dari kontak saya, mau tak mau saya (gol. orang eksternal) akan mudah saja terpengaruh. Apalagi saya belum kelar berproses membentuk pribadi utuh, jadi ya gitu deh, perjuangan sekali untuk tetap positif dilingkungan negatif.  Alasan saya kemudian diperkuat dengan kenyataan saya jadi lebih sering pegang gadget. Cek timeline lah, baca-baca postingan orang lah, bahkan sampai window shopping, yang kemudian membuat saya sulit lepas dari gadget. Setelah lama berpikir, saya pikir untuk sementara hingga waktu yang tidak dit...

Terharu atau tersindir..

'Mama, kalau mama repot tidak bisa melakukan yang lain waktu menyusui Bia, mama bisa panggil Qeela. Bilang saja, Qeela cuci baju atau masak air. Nanti Qeela saja yang mengerjakan. Mama susui Bia saja. Biar mama tidak capek' Pagi ini anak gadis besar tetiba bilang seperti itu. Antara terharu dan tersindir.. Ini maksudnya anaknya peduli emak kan?? Sayang mama kan ya? Bukan maksud nyindir emak yang sok repot kan ya? :p Eniwei.. Jaza killahu khoiron anak gadiiiisss... Lekas besaar..bukan berarti biar emak bs dibantuin lho yaa..kekekekee. :* #ODOPfor99days #day17

Bebas pospak..bismillah

Sudah sejak lahiran Bia, emak sukses tidak berpembalut sekali pakai lagi. Bukan karena belum haid, sudah kok. Saat Bia 3 bulan, mamak akhirnya kedatangan tamu bulanan lagi. Sebelum haid, saya memang sudah meniatkan lepas dari pembalut sekali pakai. Lebih kepada takut efek jangka panjang, baik buat saya ataupun lingkungan (suka miris liat tempat sampah saya kalo ada sampah tersebut). Atas saran seorang teman, saya mencoba si mooncup ntuh. Dan yak, saya jatuh cinta setengah mati. Sangat tidak ribet, praktis, dan yang jelas tidak ada lagi sampah pembalut di tempat sampah kami.  Nah, tapi ketika memulai untuk anak sendiri, susahnya bukan main. Saya sebenarnya sudah mengumpulkan clodi sejak anak pertama, sudah memiliki sekitar 15 clodi yang menurut saya sebenarnya cukup saja. Tapi kembali lagi, susah yang namanya memulai.  Sebelumnya clodi hanya saya gunakan saat terpaksa ketika kehabisan pospak disaat tidak bisa langsung membeli. Ketika akhirnya harus belanja bulanan, pospak...