Postingan

Kemandirian : Shabia

Bismillah.. Memulai tantangan hari pertama untuk melatih kemandirian Bia. Kurang dari 2 minggu sudah Bia akhirnya lepas menyusu. Menurut saya, ini merupakan salah satu bentuk kemandiriannya. Dan disinilah, semua dimulai. Dari sapih, saya mencoba beranjak ke pemenuhan makannya.  Kemandirian yang ingin saya latih ialah MANDIRI MEMENUHI MAKAN SENDIRI. Bila biasanya saya yang menawarkan ia makan, kali ini saya biarkan ia merasakan sendiri rasa lapar. Menurut saya ini ialah salah satu kemandirian yang perlu dilatih, agar anak paham kebutuhannya sendiri, dan paham bagaimana memenuhinya. Hari pertama ini, saya berusaha menahan diri tidak menawarkan makan. Saya siapkan saja yang ada. Ketika kakak-kakaknya mulai memasuki jam makan dan beranjak mengambil makan, Bia mulai penasaran dan ikut serta ke dapur mengambil piring. Namun saat kakak-kakak mengambil nasi, ia rupanya tidak tertarik. Ia memilih menghentikan aktivitas mengcopy kakak :) Saat kakak-kakak mulai makanlah, ia kemud...

Aliran rasa game level 1 Bunda Sayang

Alhamdulillah.. 1 level berhasil terlewati. 17 hari berhasil tercatat tanpa jeda. Ini kali kedua saya mengikuti kelas Bunda Sayang, saya belajar untuk lebih konsisten di kelas Bunsay yang sekarang. Usaha sekali mempraktekan apa yang saya dapat dikelas. Komunikasi produktif menjadi tema pembuka dikelas Bunda Sayang. Secara teori, saya sudah khatam ketika dulu mengikuti bunsay pertama, namun untuk praktek, hihi, saya mulai lagi dari awal. Awalnya saya pikir akan tidak mudah menemukan kaidah komprod yang bisa saya laporkan di setoran rutin, namun ternyata saya salah. Untuk beberapa hari pertama, saya memang butuh kerja keras untuk menemukan situasi dimana saya bisa mempraktekkan kaidah komprod. Ternyata saya nya lah yang mempersulit diri dengan membatasi diri hanya seputar apa yang saya baca dimateri, padahal sebenarnya esensi yang diutamakan ialah perihal komunikasi. Sebagai manusia, sudah pasti kita menggunakan komunikasi ketika berhubungan dengan manusia lain. Mencoba lepa...

Malam kedua

Malam ini, menutup tugas tantangan di game level 1, saya ingin bercerita sekaligus membuat catatan perihal sapih Bia.. Dimulai kemarin malam, saya sudah kekeuh ikhlas (insya Alloh) untuk menyapih Bia. Paling berat ialah malam pertama. Berulang kali sounding ataupun tawaran menghibur ditolaknya mentah-mentah. Tak jarang, saking kesal pada saya, ia sempat mencubit saya sembari menangis. Ah, andai tidak dikuat-kuatkan, rasanya saya ingin ikut menangis dengannya. Mama belajar ikhlas, nak. Malam itu, saya baru tidur jam 12 malam.. Pagi ini, masih dengan strategi yang sama, ketika ia meminta menyusu, saya selalu menolak sembari mengingatkan bahwa ASI ini untuk adik bayi, sedang Bia sudah bukan bayi lagi. Saya titeni, ia menangis heboh hanya bila memasuki jam tidurnya (ia masih tidur 2x selain tidur malam dalam sehari). Dan tanpa menyusu, akhirnya tidur pagi dan siangpun di skip. Apa yang menjadi tantangan saya selain tangisannya, ialah rasa kantuk saya. Maklumkan, saya terbiasa tidur ...

Hukum Kekekalan Ikhtiar Anak

Tadi pagi, tak seperti biasanya, Qeela mendadak kekeuh minta dibelikan cimin, sebuah jajanan sekolahan yang mangkal didepan SD dekat rumah. Apalagi kondisinya belum mandi apalagi sarapan. Kali ini, saya menolak. Sudah 2 hari berturut-turut ia jajan makanan ber MSG. Jadi saya minta kali ini tidak.  Ia kemudian menangis. Mulai melakukan sesuatu yang disebut Abah Ihsan 'Ikhtiar Anak'. Dari mulai menangis diam-diam sesenggukan, sampai akhirnya berlari ke kamar dan mulai memunculkan suara tangis yang mendayu-dayu. Saya berusaha santai. Tidak terbawa suasana. Sebelum ia berlari ke kamar, saya sudah mencoba mengajak bicara dengan baik. Tanpa terbawa emosi, saya ajak ia berpikir. Apa konsekuensi yang bisa ia dapatkan bila memaksa mengkonsumsi jajanan full MSG berturut-turut selama 3 hari. Bukan, saya bukan mamak-mamak yang melarang anaknya mengkonsumsi MSG, tapi bukan pula mamak yang membebaskan apapun yang dikonsumsi anak. Saya jelaskan pula bahwa kekhawatiran akan sakit peru...

Kita dan parenting

Bismillah Bercerita lagi ya, masih seputar hasil belajar di PSPA wiken kemarin. Disiplin. Hal ini masih menjadi topik hangat diantara saya dan suami. Kami ingin, kegiatan dirumah bisa lebih tertata. Kami pun sebagai orangtua tidak perlu berulang kali mengingatkan.  Sebelumnya, ketika memulai program 1821 di rumah, saya dan suami mengalami sedikit miskomunikasi diantara kami. Akibatnya terjadi kebingungan pada anak-anak. Itulah kemudian kami sepakat membicarakan berdua dulu perihal aturan dirumah sebelum akhirnya meminta pendapat anak-anak. Jadi istilah godog proposal dulu sebelum diacc mereka. Sampai siang ini, saya dan suami kembali membahas perihal S.O.P yang akan dijalankan dirumah. Kali ini membahas batasan serta kebebasan yang bisa didapat anak-anak. Sudah 3 bulan selepas saya mengikuti PSPA, sehingga banyak sekali yang sudah agak terlupa. Alhamdulillah suami dengan setia mengingatkan, membahas ulang, dan menentukan semua bersama. Alhamdulillah sebagai seorang imam, itu...

Membuat Batasan bersama

Sepulang suami saya dari mengikuti seminar PSPA (Program Sekolah Pengasuhan Anak) di Bandung kemarin wiken, kami mulai melaksanakan pe er-pe er dalam keluarga kami. Salah satu pe er kami ialah melengkapi aturan-aturan dan batasan yang ada dirumah. Bila sebelumnya sebagian besar batasan yang sudah dijalankan dirumah adalah keputusan kami orangtua, kali ini kami belajar memutuskan dngan mengikutsertakan suara anak-anak. Menyenangkan karena banyak sekali input yang kami dapat dari mengobrolkan batasan dengan anak-anak. Menentukan aturan yang disepakati bersama dan diakhiri dengan cap jempol tanda sepakat di kertas yang berisi kesepakatan kami. Tugas kami sekarang adalah memastikan bahwa aturan dan batasan yang sudah disepakati itu betul terlaksana dengan baik. Mohon doanya temans #hari14 #tantangan10hari #gamelevel1 #komunikasiproduktif #kuliahbunsayIIP

(masih dengan) Sapih

Bulan ini, Bia menjelang 29 bulan dan iyak mamak belum berhasil juga menyapih si bayik :( Sudah berbagai cara (sepertinya) yang mamak lakukan mengikuti kaidah WWL (Weaning With Love), namun sepertinya masih ada kecenderungan belum ikhlas dihati kami berdua. Memang ya, katanya bila belum ikhlas, ntah kenapa WWL tidak akan berjalan lancar. Siang ini saya kemudian mencoba berikhtiar lagi. Saya ajak bicara Bia kesekian kalinya (ditambah sounding berbulan-bulan lamanya) bahwa ia sudah terlalu besar untuk masih menyusu. Bahwa yang diperbolehkan menyusu ialah adik bayi. Sedang Bia sudah termasuk kakak-kakak. Bila sedang seperti ini, ia akan mengangguk paham. Namun semua berkebalikan ketika ia mulai mengantuk. Saya harus sabar-sabar menghibur maupun mengalihkan perhatiannya. Semakin berat sebenarnya dikarenakan saya tidak memiliki pihak lain yang memantu 'menyelimurkan' Bia. Maka sembari menggendong-gendong bayi yang mulai menjelang tantrum, saya bersamaan harus menemani kakak-k...