Hukum Kekekalan Ikhtiar Anak
Tadi pagi, tak seperti biasanya, Qeela mendadak kekeuh minta dibelikan cimin, sebuah jajanan sekolahan yang mangkal didepan SD dekat rumah. Apalagi kondisinya belum mandi apalagi sarapan. Kali ini, saya menolak. Sudah 2 hari berturut-turut ia jajan makanan ber MSG. Jadi saya minta kali ini tidak.
Ia kemudian menangis. Mulai melakukan sesuatu yang disebut Abah Ihsan 'Ikhtiar Anak'. Dari mulai menangis diam-diam sesenggukan, sampai akhirnya berlari ke kamar dan mulai memunculkan suara tangis yang mendayu-dayu.
Saya berusaha santai. Tidak terbawa suasana. Sebelum ia berlari ke kamar, saya sudah mencoba mengajak bicara dengan baik. Tanpa terbawa emosi, saya ajak ia berpikir. Apa konsekuensi yang bisa ia dapatkan bila memaksa mengkonsumsi jajanan full MSG berturut-turut selama 3 hari. Bukan, saya bukan mamak-mamak yang melarang anaknya mengkonsumsi MSG, tapi bukan pula mamak yang membebaskan apapun yang dikonsumsi anak. Saya jelaskan pula bahwa kekhawatiran akan sakit perut yang dialami sebelumnya bisa kembali kambuh karena makan sembarangan. Belum lagi karena ia belum sarapan.
Tapi rupanya cara saya belum berbuah manis. Ia berlari ke kamar (alhamdulillah tidak pakai banting pintu), Kemudian mulai mengeraskan suara tangis mencari perhatian si Ayah. Alhamdulillah saya dan suami sudah cukup sepakat untuk hal seperti ini. Maka meski suami tidak tahu duduk permasalahan, ia tetap dia tak tergoda untuk mendukung si anak.
Menyadari strateginya tidak berhasil, Qeela mulai kembali berpindah ke ruang tamu. Mencari perhatian saya lagi. Alhamdulillah emak pagi ini sedang good mood sekali. haha. Jadi lanjut saja menikmati ikhtiar Qeela. Sampai akhirnya ia berhenti dengan sendirinya ketika melihat saya malah asyik beryoga ria dengan adik-adiknya didepan TV. Ia mulai tertarik untuk ikut tertawa ketika melihat saya terjatuh saat mempraktekan beberapa gerakan. Selang kemudian, ia ikut serta beryoga dengan saya. Melupakan kesedihan sebelumnya :).
Siang ini, saya tanyakan padanya, apakah masih mau cimin. Ia menggeleng. Sebenarnya ia tidak terlalu ngotot tadi pagi, hanya saja entah mengapa ingin menangis dan membuat saya kesal saja. Dan ternyata ia gagal :D.
Tak mengapa nak, minta perhatian tidak harus dengan tangis bukan. Ke depannya, tegur mama ketika kau butuh perhatian. Tanpa tangis. Hanya butuh elusan manja, atau pelukan hangat, maka aku akan paham butuhmu, sayang. Maafin mama ya, mungkin nampaknya kurang lihai membagi perhatian antara dirimu dan kedua adikmu..
Jangan lelah, sayang
#hari16
#tantangan10hari
#gamelevel1
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayIIP
Komentar