kegagalan pertama

Memasuki hari ke 6 dari tantangan 10 hari kelas Bunda Sayang IIP.

Namanya proses, perjalanan tidak akan selalu menyenangkan, pasti ada kalanya kita menemui kesulitan. Begitu juga dengan proses membentuk komunikasi Produktif dengan anggota keluarga. Saat yang saya khawatirkan pun datang juga :(

Dari kemarin saya sudah sounding anak-anak bahwa kami akan berangkat pagi-pagi dari rumah menuju Cirebon hari ini karena ada kumpul Komunitas Bestari. Acara sebenarnya baru akan mulai jam 10.00 WIB, namun karena mempertimbangkan kondisi yang mudah lelah sayapun memutuskan menumpang bis sekolah jam setengah 7.

Yah, harapan ternyata tak sesuai kenyataan. Pagi ini anak-anak bangun kesiangan, saya pun harus lari-larian menyiapkan kebutuhan dan mempersiapkan mereka. Alhamdulillah masih dibantu suami, namun qodarulloh, kami ketinggalan bis :((

Mungkin inilah yang menjadi awal ketidaknyamanan mood saya hari ini. Saya yang sudah kadung berjanji bertemu dengan teman-teman, akhirnya dengan terpaksa harus menyetir sendiri ke Cirebon.
Sebenarnya, bukan hal baru bagi saya. Kami sering sekali bolak balik Cirebon. Namun beberapa waktu belakang, saya sudah jarang menyetir sendiri ketika ke Cirebon. Kadang sengaja kami push kegiatan di weekend agar suami yang mengantarkan. Atau apabila ada jadwal yang tidak bisa diundur, saya memilih menggunakan Bis Sekolah.

Lama tidak menyetir jauh sendiri berimbas pada kebiasaan Bia. Biasanya, dahulu, Bia akan anteng di carseat ketika saya yang menyetir. Beberapa kali disetiri suami membuat singgasana Bia beralih dari carseat ke pangkuan mama. Dan nampaknya itu mulai menjadi kebiasaannya. 
Akhirnya, ketika pagi ini saya menyetir, Bia memaksa untuk duduk didepan. Sudah segala cara dari mengajak bicara pelan-pelan, menawarkan tontonan dikursi belakang, sampai meminta kakak-kakak untuk mengajak main. Jujur, saya akan sulit berkonsentrasi menyetir ketika ada anak-anak yang duduk dibangku depan. Apalagi untuk perjalanan yang terbilang jauh antara Mundu-Cirebon. Maka, ketika batas sabar saya sudah diujung, lepas sudah apa yang saya takutkan. Kenaikan nada suara yang menjurus ke membentak, berakhir dengan anak bayi menangis keras dan untuk waktu yang lama. Ia trauma. Hiks.

Ini pelajaran bagi saya. Saya sungguh menyesal sesaat setelah melakukan hal tersebut. Saya terpaksa berhenti ditengah jalan, memeluk si Bayi, meminta maaf dengan tulus. Memohon dengan sangat agar ia mau kembali duduk manis di carseatnya.
Walau dengan tangis yang belum selesai, ia mau beranjak duduk dibelakang. Mengangguk lesu ketika saya meminta maaf.

nak..semoga bentakan mama hari ini segera kau lupakan ya..
maaf teramat maaf nak. Mama lelah. Mama khilaf.
Ini murni salah mama yang tidak membiasakanmu untuk tetap di carseat ketika mama tidak menyetir. Kita belajar lagi. Kita mulai lagi ya nak.

Gagal hari ini ialah belajar kita. Bismillah


#hari6
#tantangan10hari
#kuliahbunsayIIP
#gamelevel1
#komunikasiproduktif

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meruntuhkan Label : Tidak Cinta Diri

berdamai dengan keadaan..

menyambut Baby T