Postingan

Selalu ada Hikmah

Eaa...yang mulai ngeblog lagi :P Mungkin karena nyari tempat cerita, tapi kayaknya terlalu umum kalo dipajang di IG, apalagi FB. Jadilah blogger dibuka lagi :D ... Jadi, ketika dulu mulai pindah sini, saya seringkali bertanya-tanya maksud Alloh. Saya selalu yakin bahwa apa yang terjadi pada diri saya adalah cara Alloh berkomunikasi dengan saya. Begitulah adanya ketika kami dimutasi ke Mundu. Diawal kepindahan -hingga beberapa minggu lalu-, saya masih mencari-cari makna kepindahan kami kesini. Ntah apa 'tugas' kami disini, ataupun pesan apa yang ingin Alloh sampaikan pada kami. Dan baru beberapa hari ini saya pahami, dan kesimpulanpun baru saya dapatkan pagi tadi. Sebelumnya, saya rasa, as a human being , saya adalah pribadi yang (cukup) baik. Berusaha sebaik mungkin untuk tidak menyakiti orang lain, berusaha membantu bila dibutuhkan, tidak (terlalu) cuek dengan sekitar, berusaha ramah, dll. Ternyata saya SALAH. Alloh seakan-akan menyentil saya, ...

mengenal diri

Bismillah.. Berawal dari mengikuti matrikulasi IIP, saya kemudian sadar bila sama sekali belum paham apa peran hidup saya, makna hidup saya. Saya menjalani hidup hanya karena harus dijalani, karena sudah semestinya. Akibatnya, tidak ada peningkatan disana-sini, yang ada hanya saya yang semakin hari semakin terpuruk pada rutinitas menjemukan tanpa batas. Saya mudah stres, saya lekas naik pitam, anak dan suami jadi korbannya 😰.  For Things to Change, I must Change First Kata-kata bu Septi inilah yang kemudian saya pegang teguh. Saya selama ini mengharapkan orang-orang yang memahami saya, mengharapkan mereka yang berusaha menyamankan saya, tanpa saya berusaha sama sekali. Iya, saya salah besar.  Pelan-pelan saya mem breakdown diri saya. Perasaan saya, kebutuhan saya dsb. Saya memutuskan mulai dari mengenal diri saya sendiri karena jujur saya bahkan tidak mengenali kelebihan dan kekurangan diri saya. pathetic .  Mulailah kemudian dari matrikulasi, saya mengen...

Resume Kulwap HEbaT Jabar : Astronot atau Astronom

✨ Resume Kulwaps Grup HEbAT Community Jabar Raya 📆 Jumat, 20 Mei 2016 👤 Narsum : Pak Abdul Muqiet 🎯 Coach Muqiet 🌏 coach.my.id Host : Abah Fikri & Bunda Rita Notulen: Aby 🌙⭐🌏🌙⭐🌏🌙⭐🌏🌙⭐🌏🌙⭐🌏🌙⭐ SESSION 1⃣ Astronot 🚀 atau Astronom 🔭 Apa yang ada dalam pikiran kita ketika mendengar pertanyaan tersebut? Cita-cita?... Impian?... Atau mungkin Pekerjaan?... Mungkin sebagian kita justru bingung dengan maksud pertanyaan tersebut... Sebagai seorang coach, saya terbiasa mengajukan sebuah pertanyaan untuk mengajak coachee atau subyek untuk melihat sesuatu dari sisi yang berbeda. Dan itulah maksud dari pertanyaan tersebut, mengajak kita semua untuk melihat sesuatu dari sisi yang berbeda. Dalam kesempatan ini saya juga ingin mengajak ibu-ibu semua untuk melihat sebuah hal dari sisi yang berbeda. Masih lekat dibenak kita bagaimana jawaban-jawaban yang kita lontarkan saat kecil dulu ketika ada seseorang yang bertanya tentang apa cita-cita kita ketika besar n...

School for HS facilitator

Sejak pulang dari kunjungan belajar di Salatiga, saya dan paksuami makin merasa butuh belajar sesegera mungkin sebagai fasilitator anak-anak homeschool inih. Secara yah, kami merasa miskin ilmu sekali baik dalam dunia keilmuan umum maupun pendidikan anak. Ntah bagaimana nanti mereka memilih mendapat ilmu dengan atau tanpa pendampingan kami, kami merasa butuh belajar sebanyak-banyaknya dahulu. Angin segar ketika selang seminggu sepulang dari Salatiga, saya diinfokan seorang teman bahwa pak Dodik dan bu Septi akan mengadakan event bertajuk ' School for Homeschool Fa cilitator '. Itulah mengapa saya butuh FB saya aktif, karena info-info begini dibagikan di laman FB penyelenggara. Sempat maju mundur cantik untuk mendaftar berkaitan dengan keterbatasan dana akibat sebelumnya baru mendaftar Perak 2016. Dan, kebobrokan pengaturan uang kami juga turut andil kegalauan mamak untuk mendaftar. Tapi karena merasa memang butuh, mendaftarlah suami tanpa diganduli anak istri. Acara ini d...

Berproses..

Namanya juga hidup, berproses itu pastilah ya.. Masa mau segitu-segitu aja kualitasnya, masa mau itu-itu aja bisanya, begitu jugalah dengan saya. Dulu mungkin saya belum terlalu pandai memaknai hidup, sekarangpun masih  belum. Namun sudah lumayan lah bisa menggeser sedikit sudut pandang, sudah 27 tahun, jeh :p Saya baru merasa benar-benar mengalami naik turun kehidupan ketika saya memutuskan menikah. Saya baru 20 tahun kala itu, jelang 21 sebenarnya. Bisa dibayangkan, saya sedang pada puncak keras kepala saya. Saya merasa bisa melakukan apapun, saya merasa sudah jadi orang 'dewasa', saya sudah punya titel baru (istri) dan lain sebagainya. Yang jelas saya merasa superior dibanding kawan-kawan saya. Namun kemudian memasuki biduk pernikahan bukanlah perihal mudah. Untuk kemudian bisa mengalami ketenangan batin saat inilah, saya harus mengalami naik turun proses pendewasaan diri saya. Saya mengalami yang dialami pengantin baru kebanyakan. Sebagai contoh, masalah deng...

Ternyta masih butuh..

Hihi..ini semacam postingan galau yakk.. Jadi, beberapa waktu yang lalu saya mohon ijin keluar dari dunia per FB an. Maksud hati supaya tidak kebanyakan godaan (dari timeline) yang negatif. Namun, ternyata, saya akhirnya mengaktifkan kembali FB saya, karena godaan positif. Hehe. Saya nyaris ketinggalan 2 event penting seputar HS yang di share di FB. Eh masih 1 event dink yang nyaris. 1 event lagi masih menanti kejelasan bisa ikut atau tidak. Dari situ lah kemudian bapak suami bilang, 'aktifkan lagi FB adek, FB mas aja yang deaktif'. Jadilah, demi tidak ketinggalan info penting, saya aktifkan kembali. Bedanya, kali ini saya harus lebih jeli. Jeli untuk memanfaatkan FB sebatas untuk kepentingan anak-anak saja. Seperti halnya segala sesuatu ya, yang pasti ada sisi positif dan negatifnya. Manfaatkan yang ada untuk kepentingan positif saja, negatifnya di abaikan. So, ketemu lagi kita di FB..hihi NB: untuk event diatas, saya share nanti yaaa dipost-post selanjutnya :D #ODOPfor9...

Rasa benci..

Bagi orang yang jati dirinya dipengaruhi oleh eksternalnya, perasaannya akan dengan mudah terbentuk bergantung pada keadaan sekitarnya. Kemudian saya jadi sadar. Rasa benci pun begitu. Ia muncul dan pergi tergantung bagaimana orang sekitar membentuk diri saya. Ketika mereka mengkomentari negatif sesuatu yang saya lakukan, saya kemudian jadi enggan atau bahkan benci melakukan hal yang sama kemudian. Terlepas dari positif atau negatif kegiatan tersebut. Saya terlalu memikirkan reaksi orang-orang sekitar saya, dan ini bukan hal yang dengan mudah saya hindari.  Hari ini, setelah menyadarinya, saya kembali mengulik trauma saya, mengulik phobia saya, rasa benci saya. Adakah saya lakukan karena dipengaruhi orang lain ataukah murni dari diri saya sendiri.. Seperti halnya hari ini saya jadi membenci memasak dan segala yang berkaitan dengan dapur karena reaksi pihak luar. Mempelajari diri sendiri, saya jadi mempelajari sekitar saya juga. Bahwa setiap orang tidaklah bisa diperlakuk...