Qeela Belajar Bersepeda Roda Dua

Sudah sejak lama ,kami, saya tepatnya, ingin mengajari Qeela (5 tahun) bersepeda roda dua. Selama ini, sebagai pertimbangan kami, Qeela sudah mahir mengendalikan sepeda roda empatnya. Ia tidak ketakutan atau panik ketika harus meluncur disebuah turunan dengan kecepatan tinggi. Ia juga dengan mudah saja bisa tetiba membanting stang (bukan setir) ke kiri ataupun ke kanan ketika ada kendaraan lain melaju didekatnya. Ia sudah seperti menyatu dengan sepedanya ketika bermain sepeda.

Keinginan saya ini sudah pernah saya ajukan padanya. Saat itu ketika saya sedang hamil 7 bulan. Saya minta ia mencoba sebentar merasakan naik sepeda roda dua dengan melepaskan dua roda pembantunya. Alhamdulillahnya Qeela adalah anak yang mau mencoba hal-hal baru. Jadi kemudian ia menyetujuinya dan kamipun mulai berlatih di depan rumah. 

Wajar saja ya, ketika itu saya belum tahu metode yang pas untuk mengajarkan anak bersepeda. Saya memilih melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan orang tua saya dulu ketika mengajarkan kami anak-anaknya bersepeda. Yaitu dengan mendorong sepeda yang dinaiki anak sampai si anak berani sendiri untuk bersepeda tanpa orang tua menopangnya. Tapi sungguh ya, terbayang kan, dengan keadaan hamil 7 bulan, saya harus memposisikan setengah ruku' untuk mendorong sepeda Qeela dengan kencang. Baru beberapa putaran sayapun menyerah, saya kontraksi. 

Sorenya, sepulang ayah dari kantor, Qeela mau mencoba lagi. Kali ini saya hanya duduk dipinggiran bersama Anya sembari melihat Qeela berlatih dibantu ayah. Tapi mungkin begitulah, ketika Qeela sendiri tidak punya dorongan dari dirinya untuk bisa, maka pelajaran bersepeda roda dua tidak juga mengalami kemajuan. Saya dan suami menyerah, sudahlah, akan tiba masanya ia kembali mau belajar.

Dan saat itupun akhirnya tiba. Semua sepertinya bermula sejak pindah ke Mundu. Saat ikut kajian bersama kami di masjid, ada beberapa anak-anak sekitar masjid yang bermain sepeda di halaman masjid. Rata-rata umur mereka masih lah muda, mungkin kisaran 7-8 tahun. Mereka kemudian mengajak Qeela bersepeda bersama, karena saat itu Qeela belum bisa roda dua, Qeela kebagian duduk di boncengan saja, berkeliling halaman masjid. Pengalaman hari itu rupanya berbekas bagi Qeela.

Sekitar 2 minggu yang lalu, Qeela minta diajari sepeda roda dua. Kali ini ia semangat sekali untuk bisa mengendarai sepeda tanpa roda bantuan. Kesempatan ini jelas tidak kami sia-siakan. Setiap pagi sebelum berangkat kerja dan sore sepulang kantor, ayah (atau saya ketika ayah sudah berangkat kerja) meluangkan waktu membantu Qeela belajar bersepeda. Ayah sampai bolak balik browsing untuk menemukan cara termudah mengajarkan anak bersepeda. Untuk saat ini kami mencoba cara berbeda dengan sebelumnya. Menurut hasil browsing ayah, cara pertama adalah mengajarkan keseimbangan terlebih dahulu. Cara mahalnya adalah dengan membelikan sepeda khusus untuk mengajarkan keseimbangan. Khas keluarga kami adalah menggunakan cara tersimpel dan termurah untuk mendapatkan hasil yang sama haha, yaitu dengan melepas pedal sepedanya (ternyata bisa, dan saya baru tahu). Hanya butuh 2 hari untuk Qeela belajar keseimbangan dengan roda dua tanpa pedalnya. Kami sengaja memanfaatkan jalan menurun didalam komplek yang sudah pasti tidak terlalu ramai dan mudah kami akses tentunya. Di hari ketiga, ayah berinisiatif memasang kembali pedalnya, berfikir mungkin Qeela sudah bisa dibiasakan dengan pedal. 

Sungguh kejutan bagi kami karena hanya dengan beberapa kali mencoba, Qeela pun resmi bisa mengendarai sepeda roda dua. 'Mama..Qeela bisa!!' teriaknya dari luar rumah yang membuat saya setengah berlari meraih jilbab terdekat dari saya untuk segera keluar teras melihatnya. Sungguh, itu salah satu pemandangan paling indah bagi saya. Senyum Qeela merekah sambil mengayuh sepedanya, agak kepayahan mengkontrol stang agar tidak terlampau diluar kendali, tubuh tegangnya, namun jelas raut bahagianya. Saya menangis haru disitu. Perjuangannya berbuah manis.

Kejadian hari itu menjadi bukti nyata bahwa anak memiliki waktunya sendiri. merekalah pembelajar sejati. ketika keinginan belajar mereka muncul, tidak ada yang bisa menghalangi. Tugas kitalah mendidik mereka menjadi pribadi pembelajar, memotivasi mereka untuk selalu senang mempelajari hal-hal baru, menikmatinya sampai kemudian menemukan minat dan bakat mereka.

jadi, belajar apa lagi kita, nak?


#ODOPfor99days #day3


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meruntuhkan Label : Tidak Cinta Diri

berdamai dengan keadaan..

menyambut Baby T